You, Me and This Marriage! Four – Orriginal Version

Title: You, Me and This Marriage! Five

Author: @Myshfly3424/Milla Anggraini

Casts:

Kim Jong Woon/ Yesung

Lee Soora

dan cast lain yang akan di temukan di dalamnya(?)

Length: Chapter

Genre: Romantic, Comedy etc.

Jangan di plagiat ya? Susah lho bikin ini FF! Nyamain karakter, ngubah karakter, nyesuain jalan ceritanya juga susah! Oke oke? Jadi tolong hargai saya! ^^

Annyeong semua!! ini FF Recap dari part sebelumnya ^^ Jadi part sebelumnya aku bikin ulang 🙂 Ada beberapa bagian yang sama, ada juga yang aku buat lagi. 🙂

Ini aslinya ide awal dari part ke 4 ini ^^. Cuma berhubung aku waktu itu mau TO, jadinya aku percepat endingnya. Eh ternyata banyak yg minta full version/orriginal versionnya. Jadilah ini aku post. Mian buat yang kurang suka ^^

Happy Reading All!!

“Apa kau tahu Soora kenapa akhir-akhir ini?” Yesung memulai pembicaraannya dengan Hyerin.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan Yesung ssi! Apa yang kau lakukan pada sahabatku?”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu!”

“Huh, kau ini bodoh atau memang pura-pura tidak tahu?”

“Hyerin ssi, tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!”

“Apa kau tahu, Soora melihatmu berpelukan dengan Yoona di kantor SM! Dia pulang dengan keadaan yang parah! Mata sembab dan tidak berhenti menangis! Kau ingat kan saat dia meminta ijin menginap di rumahku?”

“Apa?”

“Sebenarnya ada hubungan apa kau dan Yoona?”

**

“Soora melihatmu dan Yoona berpelukan di kator SM! Apa kau itu tidak punya perasaan Yesung ssi? Aku tahu kau membenci Soora karena ia memaksamu dan menjauhkan mu dari Yoona. Tapi apa kau pernah berpikir tentang dirinya? Dia pernah berkata padaku, bahwa hanya dengan melihatmu saja bisa membuatnya gila! Apa kau tahu malam itu dia menangis seharian? Aku tidak pernah melihat Soora menangis seperti itu, kecuali saat ibunya meninggal! Di depannya saja Soora terlihat manja dan tegar! Aku mohon sebenci apapun kau padanya, jangan buat dia menangis lagi. Dia itu rapuh.” Yesung teringat percakapannya dengan Hyerin tadi pagi. Ia sangat terkejut saat mendengar Soora tahu tentang dirinya dan Yoona.

Dengan segera ia menyesali kebodohannya. Jadi itu alasan perubahan sikap Soora akhir-akhir ini?

Tapi menurut Yesung itu wajar. Hei, bukankah itu resikonya menjadi istri Yesung? Melihatnya berpelukan dengan orang lain? Bahkan bisa saja ia berpelukan tidak hanya dengan Yoona! Dasar wanita! Sempit sekali pikirannya! Tiba-tiba ponsel Yesung bergetar.

Lee Soora – Calling

“Yeobseyo?”

“…”

“Ne. Ini aku. Kau siapa?”

“…”

“Ne? Dimana dia sekarang?”

“…”

“Baiklah. Tunggu aku. Tolong jaga dia sampai aku datang. Terima kasih.” Yesung segera mematikan ponselnya. Baru saja teman Soora yang bernama Yunjong memberitahu kalau Soora pingsan dan sekarang ada di ruang kesehatan.

**

“Di mana Soora??”

“Dia di dalam. Oh ya aku Kang Yunjong, teman sekelasnya. Kami baru kenal satu bulan yang lalu.”

“Oh ne. Tanpa ku jelaskan kau tahu siapa aku kan?”

“Ne. Aku tidak menyangka Soora temanmu. Maaf, tadi aku meneleponmu. Karna yang ada di kontaknya hanya satu nomormu.”

“Dia tidak memberitahumu siapa aku?” Yesung sedikit terkejut.

“Tidak.”

Sambil menunggu Soora membaik, Yesung bercakap-cakap dengan Yunjong. Percakapannya bersama Yunjong membuat Yesung tahu bahwa Soora adalah pribadi yang ceria. Dia tidak pernah berwajah murung di hadapan orang lain. Ia juga menceritakan kehidupan pribadinya sebagai mahasiswi biasa. Tidak pernah menyinggung masalah pernikahannya dengan Super Junior Yesung. Apa Soora setegar itu? Dia benar-benar memisahkan antara masalah pribadi dan orang lain.

Yunjong dan Soora pertama kali bertemu saat secara tidak sengaja Yunjong menabrak Soora. Dan ternyata mereka bertemu di kampus setelah tiga hari peristiwa itu. Dan yang membuat Yesung miris, saat ia mendengar dari Yunjong bahwa saat itu Soora tengah menangis. Dan Yesung yakin bahwa hari itu adalah saat Soora melihat Yesung berpelukan dengan Yoona.

**

“Kau sudah sadar?” Soora keluar dari kamar Yesung. Tadi Yesung tidak membawa Soora langsung ke apartemen mereka karna dia pikir dia tidak bisa memasak, sedangkan Soora pasti butuh makanan yang bergizi. Sudah hampir beberapa hari ini makannya tidak teratur.

“Kau makanlah dulu. Tadi aku sudah meminta Wookie memasakkan makanan untukmu.” Soora berjalan lemas ke meja makan. Dia melihat ada Leeteuk dan Wookie yang juga ada di meja makan. Leeteuk menatapnya dengan sedikit sinis, sedangkan Wookie dengan wajah penuh senyum.

“Apa hyungmu yang satu ini tidak ikhlas menerimaku di sini?” Soora berkata pada Yesung sambil melirik Leeteuk.

“Ya! Kau sopanlah sedikit padanya!” Yesung menasehati Soora.

“Aku bisa sopan padanya kalau dia juga menghormatiku!”

“Siapa yang kau maksud? Aku?” kini Leeteuk angkat bicara.

“Tentu saja! Siapa lagi memang?” Soora menjawab Leeteuk dengan sedikit sinis.

“Dari awal aku memang tidak setuju kau menikah dengannya Yesung-ah! Lihat saja dia, berbicara tanpa aturan.”

“Aku sudah berusaha baik padamu Leeteuk ssi!”

“Dengan mengancam? Kau bilang itu baik?” kali ini Leeteuk menaikkan suaranya satu oktaf.

“Apa maksudmu?” balas Soora tak kalah sengit.

“Tidak tahukah kau betapa menderitanya Yesung? Kau tega merampas kebebasannya! Dengan semena-mena kau memilikinya! Kau memang perempuan sadis Soora ssi! Jangan karena kau anak Sooman, kau pikir aku takut padamu? Tidak sama sekali! Kau tega mengambil semuanya dari kami! Kebahagiaan kami, kebebasan kami! Dan karena itu juga Yesung dan Yoona …”

“Hyung! Cukup! Kalian berhentilah!” Yesung menatap Leeteuk dan Soora bergantian. Sedangkan Ryeowook, ia cukup tahu diri dengan meninggalkan meja makan.

“Baiklah. Kalian makanlah! Aku mau pulang!” Soora berjalan ke kamar Yesung untuk mengambil tas dan dokumen yang akan ia presentasikan besok. Meski Soora orang yang keras kepala dan tidak mau mengalah, tapi ia cukup terluka dengan perkataan dan tatapan Leeteuk padanya.

Leeteuk sedikit tersentak, karena baru kali ini dia berkata kasar pada perempuan! Sungguhpun Leeteuk tidak mau melukai siapapun, termasuk Soora. Namun entah mengapa setiap melihat wanita itu, terlebih apa yang di lakukannya terhadap Yesung ia akan menjadi sangat marah.

**

“Apa Soora mau pulang? Dia kan belum makan hyung?” Wookie menghampiri Yesung yang sedang memasukkan beberapa makanan ke dalam kotak makan.

“Sini, biar aku yang bantu. Kau temui Soora saja di kamar. Aku akan bungkuskan ini untuknya.” Lanjutnya pada Yesung.

“Ne. Terima kasih Ryeowook!” Yesung berjalan ke kamarnya. Sesampainya di depan kamar, ia mendengar isakan Soora. Ia yakin gadis itu sedang menangis sekarang. Walaupun ia menyebalkan, ia tetap seorang wanita. Yesung mengetuk pintu.

“Soora ssi! Apa kau jadi pulang?” Lama tak ada jawaban.

“Soora ssi? Apa kau mendengarku?” Kemudian pintu di buka dengan Soora yang sudah membawa tas dan dokumennya.

“Aku antarkan kau pulang. Ryeowook sedang mengemas makananmu. Jangan lupa berterima kasihlah padanya!” Selesai Yesung menyelesaikan kalimatnya Ryeowook muncul dengan kotak makan di tangannya. Ada sekitar tiga kotak.

“Ini sup, ini bubur, dan ini lauk-pauknya!” Ryeowook menyerahkan kotak-kotak itu pada Yesung.

“Gamsha hamnida Ryeowook oppa! Maaf aku merepotkanmu!” Soora berterima kasih pada Ryeowook.

“Gwenchanayo Soora-ya!” jawab Ryeowook sambil tersenyum.

“Kajja!” ajak Yesung. Mereka berdua melewati ruang TV yang ternyata ada Leeteuk.

“Hyung! Kami pulang dulu!” pamit Yesung. Leeteuk mengalihkan pAndangannya lalu mengangguk. Ia juga melihat Soora yang sedikit membungkuk ke arahnya.

**

Selama perjalanan, Yesung dan Soora hanya saling diam. Tak sepatah katapun terucap dari mulut mereka.

“Tentang omongan Leeteuk-hyung jangan kau ambil hati. Aku minta maaf atas kejadian tadi.” Yesung melirik Soora. Soora hanya diam lalu mengalihkan pAndangannya ke luar jendela. Melihatnya Yesung hanya menghela nafas.

**

Ponsel Soora yang ada di saku Yesung tiba-tiba berdering.

“Yeobseyo?” ia mulai berbicara.

“Yeobseyo. Apa benar ini nomor Lee Soora?” tanya suara di sebrang yang ternyata seorang namja.

“Ne. Waeyo? Soora sedang tidur. Ada yang bisa ku bantu?” Yesung melirik Soora yang tertidur sepanjang perjalanan.

“Ah, aniyo. Aku hanya ingin menanyakan kabar Soora. Apa ia baik-baik saja?”

“Iya. Dia sudah lumayan. Maaf kau siapa?”

“Aku Yunjong. Kim Yunjong.”

“Oh, yang tadi?”

“Ne. Apa ini Yesung ssi?”

“Ne.”

“Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan menghubungi Soora lagi!”

“Ne. Oh ya Yunjong ssi, tolong jangan katakan apapun tentangku pada orang lain.”

Klik. Sambungan diputus. Yesung melirik Soora yang sedang tidur. Wajah yang damai, sebenarnya sifat Soora tidak jauh berbeda dengan maknaenya, Kyuhyun. Sama-sama jail dan evil. Yesung tahu itu dari dulu. Dari mereka kecil, sifat sebenarnya tidak manja dan mau menang sendiri. Namun sejak ibunya meninggal entah kenapa sifatnya makin menjadi. Yesung bukannya melupakan Soora dan tidak mengenalnya lagi. Pelan-pelan ia membangunkan Soora, namun Soora sama sekali tidak bergerak!

Yesung lalu menggendong Soora menuju apartemen mereka. Yesung memasukkan password dengan susah payah, dia lalu membuka pintu dan menuju kamar Soora. Setelah meletakkan Soora di ranjangnya, ia bergegas keluar. Namun saat berbalik ia sangat terkejut. Foto pernikahan mereka yang dipajang Soora kini entah di mana. Yesung menelusuri meja Soora. Bukannya bermaksud lancang, namun entah kenapa hatinya menyuruhnya untuk menggeledah isi meja Soora. Ia menemukan foto pernikahan mereka berdua di laci meja Soora. Tiba-tiba saja hatinya tergerak untuk mengambil foto itu. Ia mengamati sejenak lalu menempatkan foto itu diatas meja Soora. Ia lalu tersenyum lalu keluar kamar.

**

Yesung memutuskan untuk tidak berangkat kerja keesokan harinya, karena memang jadwalnya kosong. Ia membuat dua cangkir kopi dan menyiapkan roti panggang untuk sarapan pagi ini. Ckleek… Pintu kamar Soora terbuka.

“Kau sudah bangun?”

Soora tidak menjawab Yesung, ia mengambil gelas dan menuang air putih.

“Duduklah, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita!” Ucap Yesung sambil duduk. Soora duduk di hadapan Yesung. Ia masih diam lalu mengambil rotinya dan memberi selai strawberry di atasnya. Ia mulai makan sambil mengalihkan pAndangannya. Mereka berdua makan dalam diam.

“Ehm.. Soora-ya! ada yang mau aku bicarakan padamu.” Yesung memulai percakapan diantara mereka.

“Apa?” jawab Soora tanpa menatap Yesung.

“Masalah aku dan Yoona berpelukan di kantor SM… itu…” belum selesai Yesung bicara Soora meletakkan rotinya. Ia hendak beranjak namun di cegah oleh Yesung.

**

Aku membuka mataku. Oh, kenapa pening sekali? Mengapa aku ada di kamarku ya? Perasaan aku masih ada di mobil Yesung tadi? Aku memutuskan keluar kamar. Aroma kopi langsung mampir kehidungku saat aku keluar kamar. Tumben Yesung sudah bangun jam segini?

“Kau sudah bangun?” Yesung bertanya padaku tapi ku acuhkan.

Aku sangat haus lalu menuang air putih dan meminumnya

 “Duduklah, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita!” Ucap Yesung sambil duduk. Aku mengikutinya dan kami makan dalam suasana sunyi.

“Ehm.. Soora-ya! ada yang mau aku bicarakan padamu.” Tiba-tiba ia bertanya padaku. Tumben sekali? Biasanya dia to the point tanpa bertanya terlebih dahulu.

“Apa?” Jawabku tanpa menatapnya sama sekali. Ia terlihat berpikir.

“Masalah aku dan Yoona berpelukan di kantor SM… itu…” belum selesai Yesung bicara aku meletakkan rotiku. Kenapa harus dia si? Kenapa harus nama itu yang selalu aku dengar? Yoona, Yoona, Yoona? Saat aku mau beranjak pergi Yesung menarikku dengan paksa. Aku berusaha melepas cengkramannya di tanganku.

“Lepaskan aku!” bentakku.

“Ya! Dengarkan dulu aku!”

“Shiero! Aku tidak mau!”

“Kau ini benar-benar keras kepala ya?”

“Lepaskan aku Yesung SSI!” aku memberikan penekanan pada kalimat terakhirku.

Yesung akhirnya melepaskanku. Huh, sakit juga genggamannya!

“Mianhae!” ucapnya saat aku hendak berjalan ke kamar. Aku sedikit terkejut lalu berhenti.

“Mianhae karena aku berbuat seperti itu. Aku tahu, seharusnya aku tidak melakukan hal seperti itu!”

“Apa yang kau bicarakan?” tanyaku tanpa berbalik menghadapnya.

**

Aku menatap Soora yang berjalan ke arah kamarnya. Aku tahu aku salah, entah mengapa aku merasa bersalah padanya.

Tiba-tiba telepon apartemen berdering. Ternyata eommaku yang menelepon. Beliau menanyakan apakah aku ada jadwal? Eomma memintaku dan Soora untuk ke rumahnya. Tapi, apa Soora mau?

Tok.. Tok.. Took..

Aku mengetuk pelan pintu kamar Soora. Ia membukakan pintu dengan rambut yang masih basah dan handuk di tangannya. Pasti ia baru selesai mandi.

“Eomma mengajak kita main ke rumah. Bagaimana?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

“Kapan?”

“Hari ini. Apa kau bisa?”

“Jam berapa?”

“Kapanpun kau siap.”

“Baiklah!” jawabnya singkat hendak menutup kamarnya. Namun sebelum ia menutup kamarnya, aku mencegahnya.

“Terima kasih!” ucapku.

“Untuk?”

“Mau datang mengunjungi eomma.” Begitu aku selesai dengan ucapanku ia langsung berbalik.

Soora yang berada di kamar teringat percakapannya dengan Hyerin beberapa hari yang lalu. Hal ini membuat Soora semakin bingung dan memikirkan lagi semuanya dengan baik-baik. Sebelum semuanya berjalan semakin rumit dan tidak bisa dikembalikan seperti sedia kala.

Flash Back

“Apa sebaiknya aku berpisah saja dengannya Hye?” Soora memulai percakapannya sambil menyeruput jus jeruk kesukaannya. Hyerin yang sedang mengunyah pastanya sedikit tersedak dengan kalimat Soora barusan.

“Ya! Apa kau bercanda?” protes Hyerin setelah meminum air putih di hadapannya. Soora hanya menggeleng.

“Aniyo. Mumpung semua belum terlambat Hye. Lagipula aku dan dia juga belum pernah melakukan apapun. Bahkan menciumku saja tidak pernah. Makadari itu tidak ada yang rugi kalau kami berpisah!”

“Ya! Kau benar-benar terlewat batas kali ini Lee Soora! Tidak ada yang rugi katamu? Aku yakin kaulah pihak yang paling rugi sekaligus menderita karena perpisahan kalian! Aku berani menjamin seminggu saja, ani sehari saja kau tidak melihatnya kau pasti akan gantung diri!” Soora tertawa mendengar lelucon sahabatnya.

“Ya! leluconmu itu sangat tidak masuk akal sekali Hye! Aku tidak se-psikopat itu Hye-ah! Aku masih cukup waras ara? Aku hanya ingin tahu saja dan memastikan perasaanku padanya. Apa benar aku mencintainya atau hanya menggilainya?”

“Kalau itu yang mau kau lakukan, seharusnya sudah sejak dulu. Semenjak kalian belum menikah dan berjanji di depan altar, bodoh!” Keduanya sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hyerin menyeruput jus melonnya lalu kembali berbicara pada sahabatnya.

“Lagipula, dulu kau yang mengejarnya. Memaksakan kehendakmu. Apa iya sekarang kau  mau melepasnya begitu saja? Kau, apa kau yakin dengan keputusanmu?”

“Mollayo.” Soora hanya menjawab lalu mengalihkan pandangannya keluar kafe. Ia meihat sepasang namja-yeoja sedang berjalan beriringan. Ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.

“Hye, apa aku ini yeoja yang kejam?” Soora menatap Hyerin.

Hyerin hanya tersenyum. “Kau itu tidak kejam Ra-ya. Hanya saja kau terlalu terobsesi pada Yesung ssi.”

Flash Back End

Tidak memerlukan waktu yang lama dari rumahku menuju rumah orang tuaku. Sesampainya di sana, kami di sambut sangat hangat oleh Eomma. Wajah keruh Soora pun tergantikan dengan senyuman lepas yang akhir-akhir ini jarang aku lihat. Eh?

Aku melihat mereka berdua dengan akrabnya bergandengan tangan masuk ke rumah. Sedangkan ayahku, beliau hanya menatapku dari jauh. Aku membungkukan sedikit badanku lalu berjalan ke arahnya.

“Hyung! Kau datang!” kulihat Jongjin datang sambil menggandeng Seonk.

Aku hanya tersenyum ke arah mereka berdua. Seonk membungkuk ke arah ku dan ayah. Sebenarnya aku sedikit iri pada Jongjin yang bisa dengan leluasa berpacaran tanpa takut amukan fans. Hahaha.. Jelas saja! Dia bukan seorang idol sepertiku.

“Karena kalian sudah berkumpul, ayo kita masuk. Aku yakin Ibu kalian sedang memasak bersama Soora.” Ayah mendahului kami. Saat aku hendak mengikuti ayah Jongjin menahanku.

“Hyung, kau membawa gadis itu kemari?” dia bertanya padaku.

“Ne. Eomma yang meminta. Aku yakin dia tidak akan macam-macam.” Jawabku. Seonk yang tidak tahu menahu hanya menatap kami berdua dengan tatapan meminta penjelasan.

“Nanti akan ku kenalkan dia denganmu! Jangan khawatir!” Jongjin melirik Seonk.

“Oppa, Soora nugu?”

“Dia . . .” perkataan Jongjin terhenti saat eomma berteriak agar kami segera masuk. Kebiasaannya masih saja belum hilang rupanya.

“Nanti saja aku jelaskan! Kajja masuk!” ajakku.

**

Setelah pulang dari rumah orang tuaku, sepertinya keadaan Soora mulai membaik. Apalagi setelah bertemu dengan Seonk. Umur mereka yang tidak terlalu jauh sepertinya memudahkan mereka untuk berkomunikasi.

Satu minggu kemudian

Saat aku duduk di ruang makan, tiba-tiba Soora menghampiriku dan duduk di hadapanku. Ia membawa map berwarna coklat yang cukup besar.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Dia memulai pembicaraan.

“Katakan saja! Oh iya, apa isi map itu?”

“Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku harap semua ini keputusan yang tepat.” Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan.

“Apa sebaiknya kita berpisah saja?” pertanyaannya barusan cukup mengejutkanku! Berpisah?

“Apa kau bercanda?” tanyaku memastikan.

“Ne. Aku rasa itu keputusan yang tepat kan Yesung ssi?”

“Apa kau gila? Kau yang memaksaku menikahimu, lalu kau ingin kita berpisah?” bentakku.

“Daripada kita saling melukai. Daripada aku melukaimu, melukai Yoona Onnie, melukai hyung-hyungmu. Terlebih lagi melukai diriku sendiri.” Jelasnya dengan suara tertahan.

Aku hanya diam dan tidak mampu bersuara.

“Aku rasa memang sebaiknya kita berpisah Yesung ssi. Aku berbohong padamu masalah SS, aku menggunakan alasan itu untuk memaksamu. Tapi masalah aku menyukaimu, itu benar. Aku sudah menyukaimu dari dulu. Dari saat kau belum menjadi seorang trainee. Bahkan sampai sekarang, itu semua tidak berubah. Ternyata kau benar Yesung ssi. Aku memang belum sepenuhnya mengenal dan memahamimu. Cinta tidak dapat di paksakan! Kita selesai sampai di sini.”

Aku menatapnya yang mulai menyeka air yang keluar dari ujung matanya.

“Aku butuh persetujuanmu untuk menandatangani surat ini. Tolong tanda tangani surat ini.”

 Dia menyodorkan sebuah map coklat besar. Aku mengambilnya dan mulai membukanya. Surat Perceraian. Bukan hanya itu, ternyata surat itu lengkap dan sudah terisi.

“Kau memaksaku menikahimu dan sekarang kau memaksaku menceraikanmu?” tanyaku. Lucu sekali dia ini! Apa artinya pernikahan ini? Tunggu! Pernikahan ini?

“Baiklah Lee Soora! Asal kau tidak menyesal saja! Kau tahu, aku justru diuntungkan dalam kondisi ini. Setidaknya aku tidak perlu lagi bertanggung jawab atas dirimu!” jawabku menatapnya.

“Tidak usah banyak bicara. Aku mau surat itu kau tanda tangani malam ini juga!”

Aku memikirkan semuanya matang-matang. Bagiku, pernikahan itu adalah sekali seumur hidup. Tapi gadis ini, gadis di hadapanku ini benar-benar mempermainkanku! Sialan kau Lee Soora!

**

Yesung mengantarkan Soora berangkat ke kampusnya. Selama dalam perjalanan, pikirannya berkecamuk antara bingung untuk memutuskan perceraiannya. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di depan kampus Soora. Saat Soora akan keluar dari mobil, Yesung menahan lengannya.

“Wae?” tanyanya.

“Um.. Masalah surat perceraian kita aku sudah menandatanganinya. Kau bisa mengambilnya di jok belakang.” Ucap Yesung tanpa menatap mata Soora.

“Ne arraseo! Akan kuambil sekarang juga. Dan nanti sepulang kuliah aku akan mendaftarkannya ke kantor pengadilan.”

“Terserah kau saja!”

“Yesung ssi!” panggil Soora pelan.

“Ne?”

“Gomawo karena telah menAndatanganinya.” Soora lalu membuka pintu belakang dan mengambil amplop coklat yang berisi formulir perceraiannya. Ia menatap amplop itu singkat lalu berbalik dan berjalan menjauhi mobil Yesung.

Sementara itu Yesung menatap punggung Soora yang mulai menjauh memasuki kampus. Saat hendak menyalakan mesin mobilnya, ia melihat seorang pria yang pernah ia temui saat ia menjemput Soora dulu. Yunjong kalau tidak salah. Mereka berdua saling bertatapan lalu Yesung menjalankan mobilnya mnenjauhi area kampus Soora.

**

“Ya hyung! Makanlah!” Ryeowook menghampiri Yesung yang sedang sibuk mengganti channel TV. Tatapan matanya memang ke arah TV, namun pikirannya entah bertamasya kemana.

“Hyung!” panggil Ryeowook lagi. Kali ini ia menggoncangkan tubuh Yesung pelan.

“Ne?”

“Makanlah! Aku sudah menyiapkan makan siang. Aku akan memanggil Leeteuk hyung dan yang lainnya.Ah.. Beruntung sekali hari ini kita free!” ujar Ryeowook sambil berjalan keluar dorm.

Sementara itu Yesung sedang berpikir keras. Ia teringat saat Sooman sajangnim memintanya untuk menjaga Soora. Seketika timbul penyesalan dalam diri Yesung karena telah menAndatangani formulir perceraiannya. Namun di sisi lain, ia bisa senang dan leluasa untuk menjalin hubungan dengan siapapun! Termasuk orang yang benar-benar ia cintai.

“Ya!! Aku lapar! Mana makananku?” terdengar suara Shindong masuk kedalam dorm dan itu membuyarkan lamunan Yesung.

“Aigo.. Ryeowook-ah! Kau benar-benar tahu selera kami!” kali ini Leeteuk yang menimpali. Yesung hanya tersenyum mendengar sedikit keributan kecil di ruang tengah. Ia lalu berjalan ke ruang tengah dan berkumpul bersama yang lain.

**

“Soora ssi? Gwenchanayo?” sapa Yunjong saat ia melihat Soora melamun sambil menggambar sesuatu yang tidak jelas.

“Soora ssi?” tanyanya lagi saat Soora tidak menjawab pertanyaannya.

“Ah ne? Mianhaeyo Yunjong ssi! Ada apa?”

“Neo gwenchanayo?”

“Ah ne. Gwenchana. Waeyo?”

“Kau terlihat lemas. Ada apa? Apa ada masalah? Kalau iya kau bisa cerita padaku.” Soora menggeleng dan menolak twaran Yunjong.

“Aniyo. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah.”

“Jeongmal?”

“Ne. Tenang saja! Terima kasih sudah menghawatirkan aku!”

**

“Soora-ya!” Yunjong menghampiri Soora yang sedang berjalan kaki menuju halte.

“Ne?”

“Kau mau pulang denganku? Aku bawa motor hari ini.”

“Ah tidak perlu Yunjong ssi! Aku naik bus saja. Lagipula aku akan ke suatu tempat dulu.”

“Benarkah? Apa perlu kuantar?”

“Tidak perlu. Aku bisa kesana sendiri.”

“Baiklah kalau begitu aku pulang dulu. Kalau kau butuh sesuatu hubungi saja aku!” pamitnya.

Ia lalau menstater motornya menjauhi halte bus. Tak lama kemudian bus yang di tunggu Soora datang. Ia masuk ke dalam bus dan mengambil tempat duduk di dekat jendela. Ia menikmati pemandangan dari luar bus. Ia sudah lama sekali merindukan saat ia SMP dulu. Saat ia belum menjadi putri manja dan selalu diantar kemanapun menggunakan mobil. 10 menit kemudian bus yang ia tumpangi berhenti di halte berikutnya. Ia turun dan kemudian berjalan ke arah gedung perkantoran di daerah Cheonggyecheon. Ia memasuki salah satu gedung bertingkat dan menuju ke meja resepsionis.

“Maaf, apakah tuan Kim Jaesuk ada? Aku Lee Soora, sudah membuat janji sebelumnya.”

“Sebentar saya periksa dulu.” Resepsionis itu membuka sebuah buku.

“Ah ne! Silahkan. Ia sudah menunggu Anda dari tadi.”

“Gamsha hamnida!”

Ia lalu masuk ke sebuah ruangan yang sudah ia hafal.

“Nona Lee! Silahkan masuk!” seorang pria menyambut kedatangan Soora.

“Annyeong hasseyo ahjussi! Maaf karena aku selalu mengganggu waktumu!” Soora masuk setelah sebelumnya menutup pintu.

“Silahkan duduk.”

“Ne.”

“Apa yang membuatmu datang kemari Nona Lee? Biasanya kalau kau ada perlu kau akan menghubungiku sehari sebelumnya. Mengapa kali ini mendadak sekali?”

“Ah ne ahjussi. Mianhae, tapi aku benar-benar lupa untuk menghubungimu kemarin. Ada yang ingin kubicarakan padamu ahjussi. Bisakah kau membantuku?” tanya Soora sambil menyodorkan map coklat yang dari tadi ia pegang.

Jaesuk mengambil map yang di berikan Soora dan membukanya. Ia mulai membaca kertas yang ada di hadapannya.

“Mwo? Apa kau yakin Nona Lee?” Soora tersenyum mendengar pertanyaan Jaesuk.

“Ne ahjussi. Aku ingin kau menjadi pengacaraku nantinya.”

“Nona Lee, pernikahan kalian baru enam bulan. Apa kalian yakin ingin bercerai?”

“Ne ahjussi. Aku yang memintanya untuk menceraikanku.”

“Wae? Pasti ada alasannya bukan?” Soora menatap Jaesuk dengan mata sayu.

“Kami tidak saling mencintai ahjussi. Maka dari itu aku putuskan untuk bercerai dengannya.”

“Aigoo Nona Lee, bukan kalian yang tidak saling mencintai. Tapi dia yang tidak bisa mencintaimu. Dulu aku sangat senang sekali saat kau memberikan undangan pernikahanmu. Tapi sekarang aku benar-benar sedih melihat kau kemari dan memintaku untuk menjadi pendampingmu di sidang perceraian kalian. Aku tidak habis pikir.” Wajah Jaesuk benar-benar menunjukkan kekecewaannya. Ia tahu benar bahwa Soora sangat mencintai Yesung. Bagaimana tidak? Ia adalah sahabat dekat ayahnya. Bahkan bisa dibilang bahwa Jaesuk merupakan ayah kedua bagi Soora setelah Sooman.

“Mianhae ahjussi. Aku tahu kau kecewa padaku. Tapi mau bagaimana lagi? Kau benar ahjussi, dia bahkan tidak menyukaiku. Aku menjadi sedikit menyesal sudah meminta ayah untuk menikahkanku dengannya. Aku sudah merusak semuanya ahjussi! Nama baik ayah, hidupku, terutama dia.” Soora tidak dapat membendung airmatanya lagi. Perlahan ia mengeluarkan kristal-kristal bening dari ujung matanya.

“Sudahlah. Jangan menangis seperti itu! Jangan terlihat cengeng Ra-ya! Aku akan selalu mendukung selama itu adalah yang terbaik untukmu! Aku percaya kau pasti mengambil jalan yang terbaik!” Jaesuk berusaha menenangkan Soora.

“Gomawo ahjussi.”

“Aku yakin kau bisa lebih baik tanpanya. Baiklah, aku akan mengurusnya. Dan kau tidak perlu mendaftarkan formulir ini ke pengadilan. Biar aku saja. Karena aku tidak mau semua orang yang ada di sana menatapmu dengan sinis” Jawab Jaesuk sambil merangkul pundak Soora.

**

Dua minggu kemudian, Soora dan Yesung sudah resmi bercerai. Pada awalnya Sooman sempat shock atas keputusan yang diambil putrinya itu. Ia juga kecewa dengan sikap Yesung yang tidak bisa memenuhi permintaanya dulu(YMTM part 4). Kedua orangtua Yesung pun demikian. Meski mereka pada awalnya kurang menyukai Soora, namun mereka menyesalkan perceraian keduanya. Sementara itu ada satu orang lagi yang benar-benar menyesal. Yaitu Leeteuk. Entah mengapa meski awalnya ia benar-benar membenci Soora bahkan pernah sampai menyakitinya, ia sedikit merasa bersalah atas kejadian itu. Bagaimanapun juga ia ikut andil dalam masalah perceraian Soora dan Yesung.

Di lain pihak, Yesung dan Soora sekarang sudah jarang berkomunikasi satu sama lain. Bahkan bisa di bilang keduanya benar-benar memutuskan hubungan mereka. Soora memilih untuk pindah ke Paris dan melanjutkan kuliahnya di sana. Dan Yesung? Tak jauh beda. Ia memilih benar-benar melajang sekarang. Bahkan meski Yoona sudah kembali membuka hati untuknya, Yesung seakan menolak. Padahal pada awalnya ia dengan senang hati ingin kembali pada Yoona.

**

Yesung kembali ke apartemen yang dulu ia tinggali. Sudah hampir dua minggu ia menginap di dorm dan tidak pernah kembali kesini lagi. Melihat apartemen yang sedikit ‘berantakan’ ia memutuskan meminta pegawai apartemen untuk membersihan apartemennya. Ia membuka kamar yang terletak di sebelah kanan. Kamar milik Soora. Kamar yang sudah dua minggu tidak di tempati oleh pemiliknya. Saat memasuki kamar itu, hatinya sedikit mencelos karena merasa ada yang kurang.

Wangi khas Soora seakan masih membekas di ruang kamarnya. Ia menyalakan lampu dan memandang sekeliling. Ia meraba permukaan meja belajar yang dulunya milik Soora.

“Berdebu” pikirnya. Ia lalu berjalan dan membuka lemari pakaian milik Soora. Ia terkejut menemukan beberapa helai pakaian yang tidak di bawa Soora. Ia lalu menutup kembali lemari itu dan berjalan ke arah balkon kamar Soora. Ia membuka korden dan pintu kacanya. Ia duduk di sebuah kursi yang menghadap ke luar. Menatap pemandangan kota Seoul yang ramai di sore hari.

Ia mencoba berpikir jernih sekarang. Pandangan matanya kosong. Setelah setengah jam berada di luar, ia masuk kembali dan mengunci pintu kaca. Saat ia melewati meja belajar Soora tak sengaja ia melihat foto pernikahannya dengan Soora yang terpigura dengan indahnya. Ia mengambil foto itu dan menatapnya sejenak.

“Soora-ah! Mianhaeyo!” batinnya. Saat akan meletakkan kembali pigura itu, sebuah surat beramplop biru terjatuh.

Yesung mengambil surat itu dan membacanya.

Untuk Yesung ssi, Kim Jong Woon oppa ^^

Annyeong oppa! Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu? Aku yakin kau akan baik-baik saja. Aku tahu pasti butuh waktu yang lama untukmu menemukan surat ini bukan? Entahlah. Bahkan aku sendiri tidak yakin kau akan menemukannya. :p

Oppa, mianaeyo. Mianhaeyo karena aku sudah membuat hidupmu kacau seperti ini. Maianhaeyo karena aku sudah memisahkanmu dari orang yang kau cintai.

Aku tahu, dalam kasus kita akulah yang paling bersalah. Memaksakan rasa cintaku pada orang yang jelas-jelas tidak mencintaiku. Tapi kau harus tahu oppa, kalau aku benar-benar mencintaimu. Sungguh. Sebenarnya aku tidak berharap terlalu banyak darimu. Cukup kau belajar mencintaiku saja itu sudah cukup. Namun sepertinya hatimu benar-benar tidak bisa menerima keberadaanku.

Oppa, setelah aku melihatmu aku benar-benar sadar dengan apa yang sudah kulakukan. Aku sadar aku benar-benar bodoh! Karena itu sampaikan permintaan maafku kepada kedua orang tuamu, Yoona eonni, Appa, dan Leeteuk oppa!

Oppa, aku tahu selama kita bersama aku bahkan tidak pernah melihatmu tersenyum bahagia. Aku harap dengan perceraian kita ini dapat membuatmu bahagia oppa.

Dan oppa, berjanjilah kau akan hidup dengan baik. Makan teratur dan jangan lupa minum vitamin. Perbanyaklah minum air. Kau tahu kan kau ini sering sakit tenggorokan? Jangan tidur terlalu malam dan perhatikan kesehatanmu!

Aku harap saat kita bertemu lagi, kau tidak akan terlihat kurus. Dan aku harap saat kita bertemu nanti kau bisa menunjukkan wajah bahagiamu agar aku tidak merasa menyesal karena telah meminta bercerai darimu.

Baiklah, saatnya aku harus pergi! Jaga dirimu baik-baik Jongwoonie oppa!

 

 

Dariku,

 

Lee Soora ^^

Tanpa sadar Yesung meneteskan air matanya. Ia merasa begitu buta karena tidak bisa melihat ketulusan dari hati Soora. Namun apa mau di kata? Nasi sudah menjadi bubur yang benyek dan tidak bisa di padatkan lagi. Ia melipat surat dari Soora dan membawanya ke kamarnya sendiri.

**

Soora menatap pemandangan kota Paris di sore hari. Dari apartemennya ia dapat melihat menara eiffel yang bersinar dengan sangat jelas. Ia menghirup udara dalam-dalam dan berusaha menormalkan kadar oksigen dalam tubuhnya. Ia kembali memAndang jalan raya dari lantai tiga apartemennya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sepasang suami-istri yang kira-kira berusia 50an keatas. Kedua suami istri itu sedang menikmati spaghetti dalam satu piring. Ia juga melihat sepasang remaja yang sedang bertengkar di pinggir jalan. Kedua remaja itu saling berteriak dan memaki. Namun saat si gadis mulai menangis, si pria langsung terdiam dan memeluk gadisnya. Ia lalu mengusap dan membersihkan air mata gadis itu.

“Paris memang kota yang romantis!” pikir Soora.

Lalu pikirannya melayang menuju Seoul. Sudah 1 bulan ini ia meninggalkan Seoul. Ia rindu pada ayahnya, Paman Jaesuk, dan juga Yesung! Ia menerawang jauh menatap langit yang mulai berubah warna. Ia memutar kembali saat-saat ia masih di Seoul. Termasuk pernikahannya yang gagal.

Ia ingat betul reaksi ayahnya saat tahu perceraian mereka.

Flash back

Sooman sedang menikmati tehnya saat ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Ia lalubangkit dan membukakan pintu. Ia terkejut sekaligus senang saat dilihatnya putri kesayangannya datang.

“Soora-ah! Ayo masuk! Sudah lama sekali aku tidak melihatmu Ra-ya!” ucapnya sambil memeluk Soora. Soora membalas pelukan ayahnya. Seketika tubuhnya merasa hangat. Sudah lama sekali ayahnya tidak memeluknya. Ia lalu masuk ke dalam dan meletakkan tasnya.

Mereka berdua ngobrol dengan akrabnya. Sampai akhirnya Soora terdiam dan tidak menjawab candaan ayahnya.

“Ra-ah? Something wrong? What happen to you?” Soora masih tetap terdiam namun mulai menangis tanpa suara.

“I wanna tell you something, Dad. But you must promise to me that you’ll not be angry.” Soora menjawab pertanyaan ayahnya.

“I’m promise! Tell me!” Soora menghela nafasnya. Ia lalu mengatakan apa yang terjadi antara dia dan Yesung.

“Aku dan Yesung oppa akan bercerai!”

“Mwo???”

“Ne. Itu benar ayah. Aku mohon ayah jangan marah padanya. Marah saja padaku. Aku yang memintanya untuk menceraikanku.”

“Neo michisseo?”

“Aniya. Aku rasa ini jalan yang terbaik untuk kami.”

“Apa dia menyakitimu?”

“Tidak ayah! Dia tidak menyakitiku sama sekali.”

“Aku akan menemuinya! Biar beri pelajaran anak itu!”

“Jangan ayah! Dia tidak salah!”

“Kau pikir aku percaya?”

“Ayah, ku mohon percayalah padaku!”

“Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran kalian! Kalian sudah dewasa! Aku harus menghukumnya!”

“Justru karena itu ayah. Aku pikir ini yang terbaik untuknya. Untuk kami!”

“Salah! Bukan untuk kalian! Tapi hanya untuk DIA!” Sooman lalu bangkit dari duduknya. Ia mengambil kunci mobil dan berjalan keluar rumah. Sementara itu Soora masih mematung dan menangis. Sesaat kemudian ia tersadar dengan apa yang akan di lakukan oleh ayahnya. Ia lalu menyusul ayahnya keluar tepat saat itu Sooman meyalakan mesin mobilnya.

Soora membuka pintu kemudi. Ia mengambil kunci mobil dan membuangnya.

“Ayah, ku mohon jangan! Kalau kau masih sayang pada putrimu ini. Tolong jangan sakiti Yesung oppa! Jangan hukum dia ayah! Aku mohon!” pintanya sambil berlutut dengan air mata yang masih membanjiri wajahnya. Sooman yang melihat anaknya seperti itu luluh. Ia dengan segera memeluk anaknya yang masih bersujud. Ia mengusap kepala bagian belakang Soora dengan penuh sayang. Ia tahu, anaknya sekarang sedang dalam keadaan buruk.

Sooman memang tidak jadi mendatangi Yesung hari itu dan tiga hari kedepan. Namun pada hari keempat, dia memanggil Yesung ke ruangannya.

“Ne Sajangnim? Waeyo?” tanya Yesung.

“Waeyo katamu? Apa yang sudah kau lakukan pada anakku? Kenapa kau selalu membuatnya menangis? Aku sudah dengan sangat memintamu untuk menjaganya.” Ia mendekati Yesung dan BUUUKKK!!!

Sebuah pukulan dengan mulusnya mampir ke tulang pipi sebelah kanan Yesung.

“Aku memintamu untuk bersabar! Aku mempercayakan ia padamu karena aku tahu dulu kalian berteman saat di Cheonahn! Tapi kau malah menyakitinya!” Sooman melanjutkan ucapannya. Dan BUUUKKK!!! Sebuah pukulan mendarat lagi dengan indahnya di pelipis Yesung.

Yesung berusaha menjelaskan. Ia menjelaskan bahwa Soora yang memintanya bercerai.

“Seharusnya kau menolak bodoh! Keluarlah! Aku tidak mau melihatmu lagi!” ujar Sooman. Yesung beranjak dari ruangan Sooman dengan wajah lebam.

Saat ia keluar dari lift, ia berpapasan dengan Soora yang akan memasuki lift. Soora yang melihat wajah babak belur Yesung langsung curiga.

“Gwenchanayo?” tanyanya. Tapi Yesung mengacuhkannya dan beranjak pergi.

Flashback End

Perlahan tapi pasti, matanya mulai mengeluarkan air. Ia lalu tersadar dan menghapus air matanya.

TBC

Bagaimana readersku tersayang ? ^^ Ini part recap lho ya ^^

aku sengaja campurin, soalnya ada beberapa percakapan yang aku ubah 🙂

Mohon kritik dan sarannya ^^

Thanks for Reading 🙂

Iklan

33 thoughts on “You, Me and This Marriage! Four – Orriginal Version

  1. woah….daebak,kerend+menguras emosi nich chingu… Bhasa pnulisannya q ska,simple+mengana..

    Dtggu bwt nexpart na y.. Gomawo

  2. aku lebih suka yang ini…
    he3x
    kenapa bukan yangini aja yang di publish kemarin???
    yah~
    part lanjutannya kapan????
    kalaubisa hari ini yah??
    ok??
    Hwaiting!!
    he3x
    ^^v

    • hha.. iya ya? aku juga lebih suka yang ini (secara ini ide aslinya)
      kapan ya?
      kalau hari ini mungkin belum bisa. Belum selesai part 5nya ^^ Lagi nyari inspirasi ^^
      mian ya,
      hhe..
      gomawo udh mau baca 🙂

  3. waaa.. uda bubar ><
    yeppa kau koq jd ky ababil gitu yaaa?
    tp ini uda kepisah negara seoul – paris.. jauh jg loh… jd pensaran gmna mreka bsa ketemuan lagi…
    di tunggu lanjutanny. hwaiting!

  4. Chapt nie lbh bgus di bndingkan chapt 4 yg lain ..
    Tpi chapt sblumx jg bgus kok ..
    tpi dsni.konfliknya gena bgt ..
    like it

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s