The Day I Fall in Love

jj2

Title: The Day I Fall in Love

Author: Hulk Kitty

Casts:

Lee Chang Sun (MBLAQ Lee Joon)

Choi Jina (G.Na)

Length: Chapter

Genre: Romance, Comedy.

 

Annyeong Haseyo! Milla kembali dengan sebuah FF milik seseorang(?) ^^ Bukan buatan Milla, tapi buatan seseorang yang aku kenal. Milla cuma mau ngepost ini FF disini dengan persetujuan yang punya FF tentunya. Jangan di plagyat ya. Kasian yang buat kk~ Enjoy reading ^^

Lee Joon’s POV

“Ya, kak.. aku sedang menuju kesana, dimana ruangannya?” kataku berbicara melalui telepon dengan managerku. Aku berjalan tergesa menuju ruang studio dimana aku dijadwalkan untuk membawakan acara musik special yang kali ini menghadirkan grup band ternama Amerika, Maroon 5.

Sepertinya managerku ini mempunyai kebiasaan menjerumuskan aku dalam hal penurunan image. Ayolah… Acara musik yang mengetengahkan grup band Amerika artinya aku harus atau setidaknya berbicara dalam bahasa Inggris! “Sialan!” kutukku. Aku bodoh dalam berbahasa Inggris, kata-kata yang kukuasai adalah kata-kata biasa yang umum yang anak TK pun bisa mengatakannya.

Tapi karena akulah satu-satunya orang yang selalu ditunjuk untuk menjadi host bintang tamu untuk acara ini, jadi apa boleh buat? Lagi pula sang produser, si gadis gemuk berkacamata Kim Hyo Shin yang berpipi chubby, yang sudah seperti teman dekat bagiku, memohon agar aku mau datang ke acara ini. Dan sialnya lagi managerku, Kevin menyetujuinya.

“Jangan khawatir, kau akan ditemani dengan Choi Jina aka G.Na. Dia kan jago bahasa Inggris jadi kau tidak akan kewalahan dalam mewawancarai Maroon 5. Santai saja oke?” bujuk Kim Hyo Shin, kala aku menolak mentah-mentah tawarannya saat mengetahui ada Band Amerika yang akan datang.

Dengan enggan aku memasuki studio 5 tempat acara musik direkam. Saat pintu kubuka, aku menyadari bahwa aku menabrak seseorang. Brruuukk… Oh! Dasar Lee Joon ceroboh atau dia sang korban tabrakan yang ceroboh? Ah.. Sudahlah tidak penting, yang penting sekarang aku melihat seorang wanita berambut pirang yang memakai roll besar dikepalanya, sedang meringis kesakitan.

“Jogiyo.. Kau baik-baik saja?” tanyaku dengan nada bersalah.

“Bahuku sakit” ucapnya sambil mengusap bahunya yang menurutku seksi. Dia memakai kaos dengan bahu terbuka, dia menengadah dan yang kutabrak tadi adalah Jina Nuna.

“Ah.. Nuna, maaf… aku tidak melihatmu jadi–“

“Oh.. Kau, Lee Joon-ssi” sahutnya santai, mengangguk salam, tapi dia masih menampakkan wajah meringgis.

“Aku juga tidak melihatmu datang jadi agaknya kita sama-sama tidak melihat” sambungnya. Dia mengusap-usap bahunya yang sekarang menampakkan bercak merah.

“Kau tidak apa-apa Nuna?” tanyaku cemas.

“Sakit sih, duh.. kenapa aku seceroboh itu ya..?” rutuknya sambil meniup-niup bahunya, yang menurutku lucu karena dia memonyongkan bibirnya guna meniup memar di bahunya. Memang hal itu akan efektif? Aku tertawa geli dalam hati, setahuku bila luka ditiup itu hanya pengalihan. Maksudku, bila seorang anak terluka karena terjatuh lalu menangis, sang ibu akan segera mengobati lukanya, dan sang anak masih tetap menangis. Akhirnya demi menghentikan tangisan sang anak, si ibu akan segera meniup luka anak tersebut agar anak itu mendapatkan sugesti bahwa lukanya akan segera sembuh dan anak itu akan dapat berlari lagi seperti biasa.

“Nuna, mari kulihat” refleksku menjulurkan tangan guna memeriksa bahunya, sepelan mungkin aku mengusap bahunya. “Ini memar, bila tak diolesi salep anti memar ini akan membiru, aku minta maaf Nuna, telah menyebabkan kau luka begini” ucapku dengan mimik muka yang sangat bersalah.

“Sudahlah… tidak apa-apa” hiburnya. “Ah, iya kau benar. aku akan tanya asistenku apakah dia membawa salep itu?” dia membalikkan badan, matanya mengitari ruangan mencari sosok asistennya.

“Aku punya!” sahutku. Tentu saja aku membawa salep itu kemana-mana, aku dikenal ceroboh, hobi menabrak apapun yang ada di depanku. Entahlah, padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin tidak mencelakakan orang lain dan diriku sendiri, tapi tetap saja, mungkin itu sudah menjadi kebiasaan dan takdirku.

“Kau punya?” tanyanya dengan mata berbinar, dan tersenyum sumringah. Sejenak aku melupakan bahwa dia kesakitan karena ulahku.

Dia sangat cantik! Yeah.. kau tahu Choi Jina aka G.Na penyanyi solo wanita korea yang ternama. Dia memang cantik, berbadan bagus sempurna serta memiliki talenta yang istimewa. Tidak ada pria yang tak terpesona olehnya, termasuk aku. Aku pria normal, tentunya mengagumi wanita. Tapi dengan kebesaran nama yang dia punya serta bakatnya membuat aku ciut. Tak ada niatku untuk mendekati atau menyukainya, karena pasti sainganku banyak. Lagipula mengingat imageku yang sudah dikenal public sebagai muscle pabo. Yaahh mau tidak mau… nyaliku menjadi kecil. Dia tidak mungkin menyukaiku. Kalaupun dia ramah dan baik padaku itu hanya karena kami sama-sama idol star dan hanya rekan kerja biasa. Itu sudah cukup bagiku.

“Hai, Lee Chang Sun” ulangnya lagi sambil melambaikan tangannya di depan wajahku. Heh.. aku terperangah sesaat, lagi-lagi kebiasaan bengongku muncul pada saat yang tidak tepat, mana bisa aku menampakkan ke-cool-an seorang Lee Joon di hadapannya.

“Ah..ya.. Nuna” sadarku sambil mengerjapkan mata.

Apa itu tadi? Sejenak aku merasa Choi Jina yang kukenal begitu berbeda. Dia sangat cantik, di mataku dia bersinar… seperti saat malam kau melihat langit gelap lalu jatuhlah sebuah bintang besar yang berekor indah yang menyilaukan mata, matamu akan terpaku pada benda itu sehingga membuat jantungmu berhenti sesaat karena mengaguminya. Ada sedikit perasaan hangat yang merambat perutku, lalu seketika itu membalik menjadi sentakan kecil di jantungku. Ya Tuhan…. Aku jatuh cinta, terpesona pada pandangan pertama. Itulah yang kurasakan. Entahlah, sepertinya sang cupid sedang nakal menembakkan panahnya ke arahku menembus badan seorang Choi Jina.

“Katamu kau membawa salepnya” ujarnya mengingatkanku.

“Oh iya, kemarilah… sebaiknya kita duduk di situ” tunjukku pada sofa tunggu yang kosong.

Tanpa berkata apapun, Jina berjalan didepanku, menuju sofa yang kutunjuk tadi, lalu duduk menungguku dengan antusias. Aku duduk disebelahnya dan menyimpan tas ranselku di pangkuanku, menghindari tatapan matanya, aku segera menyibukkan diri mencari salep yang dimaksud.

Aku mengaduk ranselku. Duh.. dimana aku menyimpan salep itu, biasanya aku simpan di kantung yang ini, kenapa benda yang kucari selalu hilang pada saat dibutuhkan? Aku terus mengaduk isi tasku berusaha mencari salep itu, ah sial… jangan-jangan aku tidak membawanya, panikku dalam hati.

Saat aku mengaduk isi tasku, tak sadar ada sebuah benda terjatuh.

“Wah apa ini?” tanya Jina sambil memungut benda berupa gelang yang tak sengaja jatuh ke lantai.

Aku mengalihkan perhatianku ke arahnya, dan dia sedang menimang gelang untaian manik warna-warni cerah yang kudapat dari salah satu fansku di Indonesia saat aku konser disana beberapa waktu yang lalu. Gelang itu menjadi favoritku saat kudapatkan karena bentuknya yang unik, terbuat dari manik-manik mungil bebatuan alam yang menurut fansku tersebut gelang tersebut adalah asli suvenir Indonesia yang berasal dari Kalimantan, salah satu pulau di negara mereka.

“Itu gelang pemberian dari salah satu fans di Indonesia” terangku, tanganku masih sibuk mengacak-acak isi ranselku.

“Ini bagus sekali, boleh kupinjam untuk show malam ini? Model dan warnanya cocok dengan pakaian yang aku gunakan” ujarnya polos.

“Tentu saja” jawabku mantap. Aku merasa senang karena dia mau memakai salah satu benda milikku, artinya dia mau memakai apa yang kupunya. Bukankah itu bagus? Aku merasakan sebuah firasat bahwa benda itulah yang akan mengakrabkan kami berdua, pikirku melambung.

“Nah ini dia..” aku mengacungkan salep anti memar dengan puas, sambil bersyukur dalam hati. Kusodorkan salep itu padanya, tapi dia menampiknya.

“Lee Joon-ssi, tolong kau oleskan, karena aku tidak bisa melihat dengan persis dimana lukaku” pintanya. Laksana gayung bersambut, dengan senang hati bercampur gugup aku mengangguk.

Acara mengoleskan salep yang sederhana itu membuat momen baru dalam memoriku. Tidak kupercaya bahwa saat ini aku tengah menyentuh bahu telanjang seorang Choi Jina, mengusapnya lembut lalu mengobatinya, dan dia dengan tatapan penuh terima kasih memperhatikan setiap kegiatan yang aku buat.

Mungkin wanita ini memiliki aliran listrik yang maha dahsyat karena setiap inci kusentuh kulitnya, dia mengalirkan sentakan-sentakan kecil yang membuat jantungku berdegup lebih kencang. Ya Tuhan, apa ini namanya…. mengapa aku harus berpikiran sejauh itu hanya karena momen sederhana seperti ini. “Kau gila Lee Joon! Kau tenggelam dalam khayalanmu sendiri! Kalaupun kau menyukainya dan jatuh cinta padanya, dia mungkin tidak akan membalasnya, lalu setelah itu kau akan terpuruk dalam khayalanmu sendiri!” kutukku dalam hati.

 

3 JAM KEMUDIAN

 

Acara taping sesi 1 acara musik special bersama Maroon 5 berhasil sukses. Aku tak henti-hentinya bersyukur dalam hati bahwa saat acara berlangsung aku laksana diberi extra roh kekuatan serta semangat yang tinggi saat membawakan acara.

Bayangkan saja, saat Choi Jina Nuna mulai mewawancara mereka dalam bahasa Inggris, aku yang terbelakang dalam bahasa ini mulai merasa minder tapi Choi Jina Nuna dengan pintarnya bisa menguasai keadaan dan memaklumi kekuranganku dengan memintaku untuk ikut aktif dalam wawancara tanpa membuatku terlihat bodoh di depan public.

Dengan segala pengalaman bertahun-tahun yang kumiliki sebagai host acara musik akhirnya aku bisa mengimbangi kondisi dan akhirnya acara wawancarapun sukses. Aku merasa puas serta berada dalam mood extra tinggi, membuat kepercayaan diriku bertambah dua kali lipat. Dalam hal ini aku sungguh berterima kasih pada Jina Nuna. Pada wanita yang mungkin akan kusukai secara diam-diam, putusku.

Aku tengah mencuci tanganku di toilet studio saat acara sudah selesai, saatnya kami diperbolehkan pulang.

“Lee Joon-ssi” Choi Jina Nuna memanggilku dan berdiri disampingku. Tubuhnya bersandar pada tembok toilet dekat wastafel berada, dia tersenyum. Senyum yang sangat manis, hampir sempurna memperlihatkan deretan giginya yang tertata cantik. Wajahnya yang tadi full make up telah dihapusnya berganti dengan make up natural yang justru menonjolkan kecantikan alaminya.

“Ya” jawabku singkat sambil menelan ludah, dia dengan sigap menyodorkan tissue guna mengeringkan tanganku yang basah. “Terima kasih” ucapku meraih tissue dan mengelap tanganku. Mataku memang tak bisa lepas dari sosoknya. Aku terus menatapnya seolah mencari sesuatu di dalam matanya.

“Ini.. Aku mengembalikan gelang yang kupinjam. Kurasa aku menyukai gelangmu, tapi inikan milikmu, dari fansmu… jadi harus kukembalikan” katanya sambil berusaha melepaskan gelang dari tangannya.

Dengan niat mencegah pengembalian gelang, dengan refleks aku mengenggam erat pergelangan tangannya. Agaknya sikapku ini seolah mengakibatkan efek fatal bagiku. Aku merasa tersengat listrik arus pendek, sekujur tubuhku merasa hangat merasakan getar-getar aneh yang terus mengelitiki badanku.

Dia menatapku dengan keheranan, matanya beralih dari pergelangan tangan yang kupegang erat kembali melihat lurus ke arahku, “Kenapa?” tanyanya menyadarkanku.

Aku melonggarkan tanganku dan menyadari bahwa tanganku sangat erat melingkari pergelangan tangannya, “Kalau Nuna suka, kuberikan gelang ini untuk Nuna” kataku.

“Kau serius?”

Aku mengangguk mantap.

“Katamu ini adalah gelang favoritmu, aku tidak berhak memilikinya”

“Tapi bila Nuna suka, aku rela memberikannya”

“Ini gelang langka lho..” selorohnya menggoda, mungkin nadanya biasa saja tapi cukup menggoda bagiku.

“Tak apa, aku ingin Nuna memilikinya”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin melihat Nuna memakainya, itu sangat cocok untuk Nuna”

“Maksudku bukan itu…”

“Apa?” tanyaku mulai merasa topik pembicaraan akan mengarah lain.

Dia menghela nafas, menyenderkan tubuhnya lebih relaks ke dinding kemudian menatap lurus ke arahku…

“Entahlah apa aku ini merasa lain atau hanya perasaanku saja. Sedari tadi kau tak henti menatapku Lee Joon-ssi. Aku menyadarinya, kau selalu mencuri pandang padaku, ekor mataku selalu menangkap kau memandangku. Aku sempat berpikir dalam hati, apakah ada yang salah pada diriku, mungkin dandananku terlihat aneh serta berlebihan sehingga kau terus melihatku seperti itu”

“Seperti apa?” tanyaku memberanikan diri. Aku sempat mengutuk diriku sendiri dalam hati, kenapa aku tidak bisa menyembunyikan rasa keterpesonaanku. Aku malah jelas-jelas memperlihatkannya. Ah… dasar Lee Chang Sun bodoh…

“Seperti ini” selorohnya, menatapku sayu seolah pasrah dengan perlakuanku. “Aku jelek ya, dandananku tidak pantas, terlalu menor atau—“

“Nuna cantik” pujiku tanpa bisa kucegah keluar dari mulutku.

“Apa?” tanyanya butuh kejelasan.

“Kau cantik, Nuna… Ah sial, maafkan aku bila Nuna terganggu, tapi aku serius tidak ada yang salah dalam diri Nuna. Baik itu dandanan, kostum atau style Nuna. Menurutku Nuna sempurna” tegasku dengan seluruh keberanianku, padahal kau tahu mengucapkan itu seperti kau mengucapkan nama Tuhanmu saat dirimu sekarat.

“Tidak, aku tidak merasa terganggu. Justru aku merasa ada hal lain, entahlah… hufff…” dia menghembuskan nafas—tidak bisa berkata-kata.

“Merasa lain bagaimana?” tanyaku mendesak.

“Tidak…tidak…tidak” elaknya melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya seolah-olah menghalau pikiran yang ada di benaknya. “Lupakan…” sambungnya. Jawabannya terus terang membuatku kecewa.

“Kau mau pulang?” tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.

“Iya, aku akan ke dorm. Nuna mau pulang juga?”

“Sepertinya begitu” ucapnya pelan, nada kecewa kupikir.

Dan tiba-tiba terlintas ide berani di benakku, terlontar begitu saja dari otakku.

“Kalau Nuna ada waktu dan tidak ada acara lain, boleh kutraktir Nuna minum kopi?”

Matanya mendadak membulat cerah, “Benarkah? Baiklah aku mau, Lee Joon-ssi”

Senyum merekah segera mengembang diwajahku, tidak bisa kutahan lagi. aku merasa melambung amat bahagia. Agaknya malam ini adalah malam terbaikku sehingga aku bisa memberikan senyuman paling tulus yang muncul dari dalam hatiku.

Dan dia juga tersenyum manis sekali, menjauhkan tubuhnya dari dinding tembok lalu membalik berjalan di depanku, menungguku agar aku menyusulnya.

Aku menatap punggung Choi Jina Nuna dengan berjuta perasaan, agaknya kami akan terlibat dalam pembicaraan hangat sambil menikmati seruputan kopi panas yang mampu mengimbangi rasa hangat yang meluap di setiap aliran darahku.

Ya Tuhan, aku bahagia, sangat bahagia….

 

-Continue-

Iklan

4 thoughts on “The Day I Fall in Love

  1. Wah, akhirnya publish jg ff Lee Joon – GNa.. Yg buat siapa? Temennya Milla ya, bilangin yah ke dia, bikin lanjutannya jangan bikin org penasaran. Bikin org penasaran adalah dosa besar!!! #jedeeeerrr.. Petir mengelegar dengan efek angin puyuh… XDD

    Itu cover editannya bagus, editan Milla bagus semua..
    Lanjutin yaa FF-nya.. Bikin yg agak somplak, lee joon kan somplak, Jinanya polos jd kayanya cocok.. Ahahahh..

    • Hahaa.. Yang buat siapa ya? ‘-‘ Hmm Milla juga ga tau XD wkwk.. Ntr Milla bilangin ke dia ya, biar bikin lanjutannya secepetnya ^^
      Bener ya? Milla juga penasaran masa sama lanjutannya. Kira2 itu Jina sama Ijun gmn jadinya ya? ‘-‘?
      Revaaaan lebay :p Wkwk.. Petir? Thunder dong ‘-‘v
      Hahahaa…

      Hoaaa.. makasih makasih 🙂 Itu aja tadi bikinnya dadakan XD
      Sip,, ntar Milla bilang ke yang punya biar ngelanjutin itu FFnya ^^
      Amin moga cocok {}
      Makasih Revaaan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s