The Day I Fall in Love (2)

jj2

Title: The Day I Fall in Love

Author: Hulk Kitty

Casts:

Lee Chang Sun (MBLAQ Lee Joon)

Choi Jina (G.Na)

Length: Chapter

Genre: Romance, Comedy.

Rating: PG-17

 

Annyeong Haseyo! Milla kembali dengan sebuah FF milik seseorang(?) ^^ Bukan buatan Milla, tapi buatan seseorang yang aku kenal. Milla cuma mau ngepost ini FF disini dengan persetujuan yang punya FF tentunya. Jangan di plagyat ya. Kasian yang buat kk~ Enjoy reading ^^

MBLAQ DORM

Text message : “Kudengar kau akan ikut WGM dengan Oh Yeon Seo, selamat ya! Semoga sukses”

Text message : “Kabarnya begitu, tapi aku belum mendapat konfirmasi akan berpasangan dengan dia”

Text message : “Tapi gosipnya sudah ramai beredar, kau akan dipasangkan dengan dia”

Text message : “Baru rumor kok. Seandainya benar, dia seangkatan denganmu nuna”

Text message : “xixixi… berarti istrimu lebih tua dong… XDD”

Text message : “Sepertinya orang sepertiku memang cocok dipasangkan dengan yang lebih dewasa J”

Text message : “Benarkah? Mana mungkin? Biasanya kalian suka yang lebih muda? Aku kan nuna-nuna.. XDD”

Text message : “Yang benar saja, kita beda cuma beda setahun nuna. Hmm… itu memang benar kok, aku suka wanita yang lebih tua, lebih dewasa, karena aku seperti anak kecil”

Text message : “Wah, cocok kalau begitu… Kau pasti senang karena berpasangan dengan Oh Yeon SeoJ”

Text message : “Aku lebih senang lagi kalau dipasangkan dengan Nuna.. XDD”

Text message : “Kau ini bercanda… mana mungkin… XDD. Sudah dulu ya, aku harus pergi sekarang, pokoknya selamat, Oh iya.. hari Kamis nanti ingatkan aku membawa syalmu, akan kukembalikan. Ok! See you at Thursday, Joonie~”

Text message : “Okee Nuna, see you too… Syalnya jangan sampai rusak yah…”

Text message : “Haha… paling sobek-sobek jadinya XDD”

Text message : “Yaahh Nuna, jangan jahil dong… Nuna take care ya… See you..”

Text message : “Ok, JBye Joonie~”

“AHAYYYY… JOONIE!!!!” teriak Mir di dekat telingaku, nyaris membuat  gendang telingaku pecah. Aku terlonjak kaget saat handphoneku telah berpindah tangan di tangan si magnae berisik satu ini.

“WOIII MIR.. KEMBALIKAN!!!” perintahku galak sambil berusaha mengapai handphoneku yang dibawa lari keliling ruang tengah dorm.

Seketika ruangan menjadi gaduh, karena ulah Mir,seperti saat sekumpulan macan yang sedang tidur tenang, lalu tiba-tiba datanglah seekor kambing montok hadir di tengah-tengah mereka dan sejurus kemudian, beberapa ekor macanpun menghampiri si kambing dengan tatapan lapar dan ingin tahu yang besar. Seperti itulah kondisi ruang tengah dorm saat ini.

Ssong yang sedang asyik melamun menatap jendela, menghitung jumlah mobil yang lewat di jalan raya, menatap kami dengan pandangan sedikit sewot, mungkin dia terganggu karena harus mengulang jumlah mobil yang sudah susah payah dia hitung sejak tadi pagi.

GO yang sedang mencukur kumisnya, lari dari kamar mandi untuk menghampiri kami, dia tidak menyadari bahwa kumisnya baru tercukur sebelah.

Thunder yang sedang menyuap ramen dimulutnya, tiba-tiba tersedak. Dia berniat menghampiri juga tapi diurungkan karena minum segelas air lebih penting daripada adegan aku mengejar Mir.

Kami berlari-lari mengitari ruangan mirip anak kecil yang menelan gasing.

“MIR, BALIKIN NGGA??” perintahku sewot. Heran juga ini anak, Mir sepertinya dia menelan segalon obat kuat, dia sangat tidak mau diam, larinya cepat dan sangat aktif bahkan cenderung autis.

Aku bisa saja mengejar Mir dan menangkapnya tapi untuk apa membuang tenagaku untuk meladeni anak autis ini, lagipula aku harus menghemat energiku untuk syuting sore ini. Cara satu-satunya yang efektif adalah mengancam Reddi—ular peliharaan Mir, dengan mengambilnya dan disimpan di kandang Ally—alligator peliharaan GO. Biasanya ini akan berhasil karena Mir menyanyangi Reddi, dia takut kalau gigi-gigi mungil nan runcing milik Ally akan melukai Reddi.

“YAK HYUNG!! Tega… jangaaaannn” cegahnya saat aku akan memasukkan Reddi ke kandang Ally. “Nih, aku kembalikan” ucapnya bersungut.

“Makanya jangan sok jahil” tatapku sok galak. Aku merebut handphoneku dan akan menyimpannya di sakuku tapi terlambat, GO hyung telah dengan cepat menjambret handphoneku. Dia berbakat jadi penjambret di jalanan.

“Apaan sih?” tanyanya dengan wajah sok tak bersalahnya. Dia membaca deretan text messageku dengan serius lalu Ssong menghampirinya. Yeahh… sial. Aku tak kuasa melawan mereka berdua, mereka berdua seniorku yang paling kejam, tak segan-segan menjitak kepalaku bila mereka berdua merasa terganggu. Di Dorm MBLAQ hukum rimba berlaku, siapa yang lebih kuat dialah yang berkuasa.

Mereka berdua membaca smsku sambil senyum-senyum cekikikan.“Kau dekat dengan Jina Nuna?” tanya Ssong, nada suaranya diubah jadi serius mungkin.

Aku, sang korban penjambretan handphone, duduk menghempaskan tubuhku di sofa. “Ya, aku cukup dekat” jawabku pasrah dan merasa letih. Acara lari-lari mengejar Mir membuat 20% tenagaku tersita.

“Wah, serius?” GO mengulang pertanyaan Ssong dan duduk didekatku, mendesak agar aku menceritakan semuanya.

Kini mereka semua mengitariku, menanti jawabanku. Thunder yang terkenal kalem duduk santai sambil meneruskan acara makannya, tampak tidak memperhatikan tapi aku tahu telinganya ditegakkan seperti radar yang menangkap pembicaraan kami.

“Sejak kapan?” tanya Ssong.

“Memangnya kenapa sih?” elakku sebal, penyakit kepo mereka mendadak kambuh.

“Herannya karena memanggilmu Joonie-ya… berarti dia menyukaimu” tebak GO sok tahu. “Heran juga kenapa dia tidak memanggilku Byunggie padahal aku kan cukup dekat, lebih dekat darimu malah” sombong GO yang selalu tidak mau kalah kalau mengenai wanita.

“Kenapa harus dibahas coba? Aku ini ramah dengan setiap orang, jadi wajar saja kalau kami jadi dekat, sama saja dengan yang lain kok” elakku lagi, sesungguhnya tidak demikian. Yah benar kalau aku dekat dan sering digosipkan dengan beberapa anggota Girl Band, sebut saja Lizzy, Hyo Sung, Sun Hwa, Hyuna, Eunji, tapi mereka hanya teman. Aku tidak mempunyai perasaan khusus dengan mereka bahkan hanya bertemu untuk bekerja. Jadi tidak ada perasaan khusus.

Tapi lain dengan Jina Nuna. Aku mulai nyaman bicara dengannya, semenjak pertemuan kami terakhir setelah acara musik special dengan Maroon 5 lalu kami pergi ke coffee shop untuk mengobrol. Dari sanalah aku menyadari bahwa Jina Nuna gadis yang menyenangkan, dia tidak pernah kehilangan topik pembicaraan bahkan cenderung cerewet, dia tidak henti-hentinya menceritakan ini itu. Aku tidak merasa canggung bicara dengannya.

Dia sangat menyenangkan. Aku hanya tersenyum menanggapi pembicaraan dia, mataku tak henti menatap wajahnya. Kau tahu. entah ini disebut proses kilat atau tidak, aku merasa saat kami berdua di coffee shop, seolah dunia berhenti berputar. Aku tidak memperdulikan sekitarku bahkan pengunjung lain, dan juga asisten Jina Nuna serta managerku yang ikut serta bersama kami. Aku mengganggap mereka tidak ada. Hanya aku dan Jina Nuna. Aku merasa langit yang hanya menaungi kami berdua, seperti itulah…

“BOHONG!” sergah Mir lagi-lagi berteriak dan kali ini yang jadi korban adalah Ssong. Ssong menatapnya sadis, Mir segera menelan ludah tapi meneruskan argumennya “Kau jadi rajin browsing mengenai Jina Nuna, sering menonton MV-nya, kegiatan yang meliputnya bahkan kau menyimpan beberapa fotonya di folder komputermu” terang Mir, membuatku tersudut.

“Sok tahu” bantahku.

“Aku tahu kok, aku memperhatikanmu” tegas Mir mantap.

“Hmm… pantas beberapa waktu lalu kau menemuiku dan meminta pendapatku tentang Jina Nuna” seloroh Thunder yang tetap fokus memakan ramennya. “Kubilang, aku tidak begitu tahu tentang dia, jadi kukatakan bahwa dia wanita seksi yang menarik, dia terlihat ramah dan baik, itu saja yang kuketahui”

“Joon… aku tahu tentang dirimu semenjak kita training dulu, jadi aku tahu persis gerak gerikmu, kau terlihat lebih bersemangat, sering senyum sendiri seperti orang gila bahkan kau mendadak menjadi bergairah setelah menerima sms—yang aku tidak tahu dari siapa, apakah kau sering mendapat sms dari dia?” terang Ssong kebapakan, seperti seorang ayah yang menanyai anaknya.

Aku mendesah karena merasa terpojok, ya.. sebaiknya aku ceritakan saja yang sebenarnya, toh mereka adalah orang-orang yang sangat dekat denganku, mereka pasti akan mendukungku.

“Menurut kalian bagaimana? Ya.. benar aku menyukainya, bahkan kurasa lebih dari suka, aku mencintainya”

“YAK!! BENAR KAN!! BENAR KAN!!” teriak Mir merasa menang.

“MIR, BERISIK!!” hardik GO membuat Mir seketika diam tapi beberapa jurus kemudian terkekeh-kekeh.

GO memukul ringan bahuku… “Tak kusangka Joon, adikku jatuh cinta dengan Jina Nuna… daebak!” GO tersenyum sumringah. “Tapi dia itu seusiaku, harusnya aku yang lebih pantas dengan dia” godanya, dan GO segera menerima tatapan sebalku.

“Apakah dia tahu?” tanya Ssong, “Apakah dia tahu kalau kau menyukainya? Kau sudah mengatakan padanya?”

“Joon hyung mana berani” timpal Thunder. Dia sekarang sedang mengelap mulutnya dengan tissue. “Karena dia belum tahu persis apakah Jina Nuna punya perasaan yang sama? Benar kan hyung?”

Aku mengangguk. Thunder benar, aku memang belum memastikan apakah Jina Nuna juga menyukaiku, bisa saja Jina Nuna memang wanita yang ramah dan hanya menganggapku sebagai salah satu temannya. Hatiku mencelos, pikiran semacam ini sudah beribu kali terlintas di benakku.

“Atau aku cari tahu, aku akan tanya padanya” kata GO ingin membantuku.

“Jangan, tidak usah, aku tidak perlu bantuanmu” tolakku. Aku tidak mempercayainya, bisa-bisa GO bukannya membantuku dia malah tebar pesona di depan Jina Nuna. Dia itu kan terkenal sebagai pemikat wanita. Ah tidak bisa kubayangkan betapa sakitnya hatiku bila tiba-tiba dia menyukai GO, dengan membayangkannya saja sudah cukup membuatku bergidik ngeri.

“Kau harus cari tahu sendiri Joon, usahakan komunikasi secara intens, beri dia perhatian, misalnya menanyakan apakah dia sudah makan? Apakah dia letih? Wanita senang diperhatikan seperti itu” saran Ssong bijak.

“Tapi kau juga harus hati-hati jangan sampai media tahu” GO mengingatkan. “Kita ini seorang idol, bahaya bila media mengetahuinya bisa berefek fatal”

“Ajak kencan diam-diam saja. Ajak dia makan malam” saran Mir, tumben sekali saat ini otaknya bergeser normal, pikirku.

“Aku belum berani” ucapku putus asa,. Mengajaknya kencan adalah hal yang paling kuinginkan, aku ingin mengulang saat-saat kami berdua waktu itu.

“Kan kau satu acara dengannya kamis nanti, nah sesudah itu kau ajak dia makan malam, kurasa dia tidak akan menolak” saran Thunder. “Aku punya tempat yang bagus untuk kalian berdua, tempatnya sangat privasi sehingga tidak mungkin ada yang tahu”

“Sebaiknya kau cocokkan jadwal acaramu sebelum mengajaknya kencan, konyolkan kalau kamis nanti kau hanya gigit jari karena gagal mengajaknya kencan disebabkan jadwalmu yang padat” saran GO.

“Aku akan bantu bicara dengan Hyung Lim, agar dia bisa mengosongkan waktumu saat kamis malam nanti, oke…” kata Ssong tersenyum. “Lebih cepat kau katakan padanya itu lebih baik, jadi kau tahu dan merasa tenang nantinya”

“Tenang saja kami akan mendukungmu Joonie-ya” ujar GO merangkul pundakku sambil mengepalkan tangannya tanda semangat.

“Yeah.. kalian benar. Aku lega kalian tahu apa yang kurasakan saat ini” aku tersenyum puas, memandang keempat pria didepanku, teman-teman memberku yang aku sayangi, aku cinta kalian! Jeritku dalam hati.

SBS STUDIO

“Wah.. benarkah sudah keluar? Bagus tidak? Sudah berapa banyak viewersnya?” tanya Jina Nuna di handphonenya saat kami berada di ruang make up. Satu jam lagi kami akan mengudara untuk membawakan acara musik special di SBS.

Jina Nuna tertawa renyah saat seseorang diseberang sana mengatakan sesuatu, jenis tertawa yang ingin aku dengar saat aku melontarkan lelucon konyol saat mengobrol dengannya.

Dia baru saja datang, dan tersenyum mengangguk padaku saat melihatku, dia tengah sibuk menelepon sehingga tidak begitu memperhatikanku.

Sudah seminggu kami tak bertemu muka, dan aku merindukannya, merindukan wajahnya yang cantik, senyumnya yang manis serta gesture tubuhnya yang luwes, aku merindukan semua tentang dia.

“Aku terlambat ya?” ujarnya padaku sesaat sesudah mematikan handphonenya.

“Aku juga baru datang Nuna” jawabku tersenyum. “Kabarnya MV Nuna yang Beautiful Day sudah keluar ya. MV nya bagus Nuna, Nuna terlihat sangat cantik, keren…” pujiku, walau sebenarnya aku lumayan gerah saat mendengar berita bahwa Jina Nuna akan berduet dengan Sanchez untuk menyanyikan lagu ini. Tapi aku bersyukur di MV ini tidak ada skinship Jina Nuna dengan Sanchez.

“Oh..kau sudah melihatnya? Aku saja belum, baru saja managerku yang menelepon dan mengatakan padaku, viewersnya di Youtube baru sedikit, agaknya single ini belum efektif promonya”

“Jangan khawatir Nuna, fans Nuna banyak pasti mereka akan mempromosikanmu”

“Ah iya… penyanyi wanita solo itu jarang mempunyai fans yang fanatik. Lain halnya dengan boy band sepertimu yang punya segudang fans dimana-mana, terutama para gadis-gadis” katanya merendahkan nada suara saat dia mengatakan kata-kata yang terakhir.

Aku mendengus, iya kau benar Jina, aku memang mempunyai banyak fans fanatik terutama para gadis yang rela menjerit-jerit saat melihatku, menganggapku sebagai manusia luar biasa yang penuh pesona, tapi tahukah kau bahwa diantara semua perhatian itu, aku kesepian, kadang aku memerlukan seseorang yang memahami diriku, seseorang yang mengetahui dengan benar keadaanku, tempat aku berbagi rasa sayangku, tempat berbagi cerita dan tempat aku mengadukan keluh kesahku. Rasanya berabad-abad lamanya aku merasa hampa, dan kosong. Aku merindukan sosok yang kusebut sebagai kekasih.

“Aku senang bertemu kamu lagi Joonie-ya, oh…ini syalmu…” ujarnya ramah sambil menyerahkan syal warna biru tua milikku yang dipakai olehnya seminggu lalu. Pada saat itu, cuaca dingin sekali, dan dasar wanita, sudah tahu dingin dia hanya menggunakan mantel tebal tanpa syal yang menutupi lehernya. Aku berinisiatif meminjamkannya, awalnya dia menolak karena miliknya tertinggal di mobil tapi aku bersikeras, akhirnya aku memakaikan syalku di lehernya.

Aku meraih syalku dari tangannya untuk kumasukkan di dalam tasku.

“Tunggu, tunggu…” cegahnya merebut syal kembali dari tanganku yang membuatku keheranan. Dia membuka lipatan syal dan memperhatikan ujungnya. “Hmm… aku salah memberikan syalnya, ini punyaku, kau lihat ini ada tulisan Jina..” tunjuknya pada ujung syal, dan benar ada sulaman warna biru muda di ujung syal itu.

Dia mengeluarkan syal yang sama persis dengan yang ada di tanganku, aku masih binggung kenapa ada dua syal yang persis sama.

“Nah ini milikmu” ujarnya menyerahkan satu syal lagi dan menukarnya.

Dia memperhatikan wajahku yang binggung lalu tertawa pelan, “Kau binggung yah…hehe…aku punya syal yang persis sama di rumah, dan baru kusadari saat melepas punyamu. Aku sengaja memberikan sulaman di ujungnya agar tak tertukar, punyamu juga sudah kusulam, kau tidak keberatan kan?”

“Tidak… aku tidak keberatan” sergahku, tentu saja tidak. Mengapa harus keberatan? “Kurasa tak perlu kau tukar Nuna, biar saja. Kan lucu kalau kusimpan punyamu dan kau simpan punyaku, aku ingin ini sebagai tanda pertemanan kita”

“Heh, benarkah? Baiklah..itu bagus, aku akan menyimpan punyamu” timpalnya tersenyum “Sebagai tanda pertemanan kita”

Hatiku menyesal saat mengatakan bahwa kita berteman, aku ingin lebih dari itu Jina, aku tidak ingin hanya menjadi temanmu, aku ingin menjadi seseorang yang berarti bagimu, teman istimewamu yang bisa kau andalkan dan sayangi.

“Kalian sudah siap? 20 menit lagi kita take” ujar pengarah acara mengingatkan. Membuat kami segera merapihkan dandanan kami, aku melihat Jina malam ini luar biasa cantiknya, sepertinya apapun yang dia kenakan selalu cocok untuknya.

Dia memakai pakaian berpotongan sederhana yang menonjokan lekuk tubuhnya yang sempurna, warna kuning cerah yang dia kenakan menambah aura kecantikannya, serta tatanan rambut yang digelung keatas sedemikian rupa memperlihatkan tengkuk putih mulus yang membuatku terkesiap.

“Nuna sudah selesai?” tanyaku saat aku berjalan menghampirinya, dia tengah mematut wajahnya dicermin sambil berdiri, agaknya aku berdiri terlalu dekat dibelakangnya sehingga pada saat dia membalikkan badannya, tangannya tak sengaja menyentuh bagian mataku dan merusak tatanan eyeliner yang mengaris mataku.

Mataku mengerjap perih, rupanya tangannya tak sengaja menyentuh ekor mataku sehingga aku merasakan perih di mataku membuat mataku secara otomatis mengeluarkan airmata, dan menghapus ujung eyelinerku.

“Ahh…Joonie-ya, aku tak sengaja, maaf yah… matamu perih ya” sesalnya. Aku secara refleks mengusap mataku dan semakin memperparah make up yang kukenakan.

Dia meraih tanganku untuk menghentikan agar aku tidak mengusap mataku, dia menunjukkan wajah bersalah serta berdiri kikuk, dia memegang erat tanganku, sesaat aku merasa sentuhan ini bagai sengatan listrik, tangannya begitu hangat.

“Tidak apa Nuna?” hiburku, aku masih mengerjapkan mataku—masih perih, dia sigap meraih tissue diatas meja dan mengusap ujung mataku.

“Ah.. eyelinermu jadi rusak, duh…”

“Sudahlah tidak apa? Aku akan memanggil make up artis untuk membetulkannya”

“Tidak biar aku saja” cegahnya, tanpa diduga dia meraih eyeliner dan tissue untuk memperbaiki make up mataku.

Salahkan dia, salahkan Jina yang sekarang berdiri sangat dekat denganku. Wajah kami secara otomatis saling berhadapan, mata kami mau tidak mau saling memandang walaupun dia tengah sibuk memperbaiki eye linerku. Aku berdiri diam terpaku, aku secara jelas dan dekat memperhatikan wajahnya, aku bisa dengan jelas menangkap nafasnya, aku bisa merasakan aroma parfum miliknya yang menyeruak melalui lehernya.

Parfum sialan… kenapa aku menghirupnya, kenapa aku bisa merasakan hangat hembusan nafasnya yang mengoda pipiku. Daya sengat Jina Nuna luar biasa, seperti induk lebah yang mampu memanipulasi sang jantan agar mau memujanya, kau tahu saat ini tanganku ingin meraih pinggangnya, melingkarkan tangan di lekuk pinggangnya serta menempelkan tubuh kami.

“Ini salahku kan… matamu jadi belepotan begini” ucapnya pelan, terdengar lirih di telingaku. Ah yang benar saja, mengapa kau harus bicara dan membuka mulutmu Jina, aku secara jelas memperhatikan gerak bibirmu. Tak bisa kutahan naluri kelelakianku bangkit, aku sedekat ini dengan wanita yang kusukai.

Aku bukan seorang Lee Joon yang pervert, aku seorang pria normal yang merasa tak berdaya saat daya tarik wanita ini mengoda seluruh tubuhku, “Nuna sudahlah…” jawabku lemah, aku tidak mampu menahan gejolak ini.

“Maafkan aku…akan kuperbaiki, jangan khawatir, ini tidak akan lama” timpalnya lagi.

Tidak akan lama? Yang benar saja… aku rela memberikan seluruh milikku agar dapat berada sedekat ini dengannya selama mungkin, tapi saat ini aku ingin mendorong tubuhnya menjauh, karena aku tersiksa… karena semakin lama otakku tidak mampu berpikir normal mengenai siapa aku, siapa dia? Apa posisiku? Bagaimana posisi dia? Kami bukan siapa-siapa dan itu yang membuat aku tersiksa…

Dia semakin mendekatkan wajahnya padaku, dia mengaris bingkai mataku dengan hati-hati, dan secara otomatis aku memejamkan mata… agaknya ini semakin memperjelas fantasiku.

Arhhh aku tidak bisa menahannya. Tanpa aku sadari, akhirnya tanganku seolah ada yang menggerakan aku menyentuh pinggangnya, tidak terlalu erat tapi cukup menekan kulitnya. Dan aku tahu dimana aku harus menyentuh area wajahnya, kudekatkan bibirku guna mengecup pelan pipinya, serta berbisik pelan—entah dia mendengarnya atau tidak, aku tak perduli.

“Nuna… aku menyukaimu…” bisikku.

-continue-

Iklan

4 thoughts on “The Day I Fall in Love (2)

  1. eh.. yang kedua udh publish? cepet bgt masa… ahh suka ama feelnya ijun ke jina.. ahahayyy dasar cowo pervert ga bisa nahan aja kalo deketan ama cewe kaya gini… lanjutannya dong Milla, bikin yg pov jina..penasaran ama feeling jina ama ijun.. kasian soalnya ijunnya kaya yg cintaaaaa matiii #heeekss kecekek.. hahahahhh
    lanjut yadongan ga yaaa… huhuyy!! keren tuh kalo jadi yadongan XDD

    • udah Revan 🙂 wkwk.. daripada mendem di laptop kan mending di publish :p haha
      Milla jg suka sama feelnya Ijun ke jina.. cuma si Ijun beneran ga bisa nahan masa. Ntr coba Milla buat yang Jina pov ya ‘-‘ tapi gatau bisa sebagus yang ini apa engga. Hahha.. Heung, , gitu kah? Hahhaa.. ntr kalo ada yadongnya mau Milla kasih pw yah ini postnya XD hahaha..

      • kaaan gitu kan kl cowo jina, itu mah udh bawaan alami… pikiran si ijun bener tuh, kalo deket ama cewe yg disukainya suka lost control kan.. ahahahhh
        masaaa… Milla kan author, udh banyak bikin ff pasti udh punya banyak pengalaman kan… jyaahhh jangan dikasih pw dong, ntar gue ga bisa baca.. huhu 😦

      • Hahaha,. iya ya.. dasar cowo :p wkwk..
        iya juga sih… XDD Iya Revan, Milla emang author, tp sepertinya kemampuan menulis jadi rada berkurang gara2 jarang bkin ff skrg. Tapi tetep Milla coba. Udah dapet 2 lembar buat kelanjutannya ^^

        ahahaha.. ntar milla kasih tau pwnya Revaaan, jangan kuatir :p wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s