The Day I Fall in Love (3)

jj2

Title: The Day I Fall in Love

Author: Hulk Kitty

Casts:

Lee Chang Sun (MBLAQ Lee Joon)

Choi Jina (G.Na)

Length: Chapter

Genre: Romance, Comedy.

Rating: PG-17

Annyeong Haseyo! Milla kembali dengan sebuah FF milik seseorang(?) ^^ Bukan buatan Milla, tapi buatan seseorang yang aku kenal. Milla cuma mau ngepost ini FF disini dengan persetujuan yang punya FF tentunya. Jangan di plagyat ya. Kasian yang buat kk~ Tapi buat part kali ini, bagian Milla yang buat. Bisa dikatakan ini FF 2 orang yang bikin. Enjoy reading ^^

Jina POV

Aku merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh pinggangku, menariknya maju untuk mendekat dan tiba-tiba saja.. chu. Sebuah ciuman mendarat dengan mulus dipipi kiriku. Aku terperangah.. Hanya bisa diam menerima perlakuan pria didepanku. Lee Joon.. Dia.. Bagaimana mungkin dia melakukan hal ini kepadaku?

“Nuna… aku menyukaimu…” bisiknya samar namun masih bisa kutangkap.

Tuk.. Eyeliner yang kupegang jatuh kebawah sehingga menimbulkan suara yang cukup untuk membuatku tersadar dan dengan segera menjauhkan diriku darinya. Aku menatap pria dihadapanku ini.

“Kau…” aku tak sempat menyelesaikan kalimatku, karena entah mengapa secara tiba-tiba aku tidak bisa mengeluarkan suaraku. Jantungku berdetak sedikit lebih kencang sekarang, menahan amarah yang tak bisa ku keluarkan.

“Nuna, gwenchanayo? Maafkan aku nuna..” ucapnya sambil menatapku. Aku balas menatapnya sebal.

Gwenchanayo dia bilang? Apakah keadaanku sekarang masih bisa disebut baik-baik saja? Entahlah.. Aku membalikkan badanku dan berjalan menjauhinya, namun saat aku hendak meraih pintu seseorang telah membukanya terlebih dahulu.

“Kalian cepatlah! Waktu kita tinggal 3 menit lagi” ujar seorang wanita berkacamata dan bertubuh mungil. Aku mengangguk dan tersenyum lalu mengikuti wanita itu dan meninggalkan Lee Joon sendirian. Sungguh gila! Dia melakukannya padaku! Aku menyentuh pipi kiriku sambil berjalan menuju kursi tunggu yang berada disisi pintu studio.

Tak lama kemudian pintu studio terbuka, seorang pria memintaku untuk memasuki studio. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Lee Joon yang berjalan cepat kearahku.

“Mohon kerjasamanya Lee Chang Sun-ssi” ucapku padanya sambil menundukkan kepalaku dan berjalan memasuki studio.

“Nuna-ya!” sebuah tangan menyentuh bahu kananku. Aku menolehkan kepala dan mendapati Lee Joon berdiri disampingku.

“Mwo?”

“Aniya, nuna.. Jongmal mianhaeyo. Aku tidak bermaksud untuk berlaku kurang ajar padamu. Itu tadi, ciuman yang tadi aku tidak sengaja melakukannya”

“Just forget it” balasku lalu kembali melanjutkan aktivitasku membersihkan make up.

“Just forget it? Mana bisa nuna?” tanyanya terlihat frustasi. Hahh.. Jujur aku masih kesal dengannya. Dengan seenaknya dia menyentuh ah ani, mencium pipiku. Ok, mungkin bagi sebagian orang hal ini terlihat biasa, tapi tidak untukku.

“Lee Joon ssi, apa kau sudah selesai? Aku harus pulang sekarang.” Aku membereskan beberapa perlengkapan make up ku dan memakai sebuah sweater tebal.

“Aku antar nuna pulang, kebetulan aku membawa mobil”

“Tidak perlu. Aku juga membawa mobil pribadi kesini. Annyeong Lee Joon ssi!”

Lee Joon

Nuna, maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk berlaku seperti itu.

Entah ini sudah sms yang keberapa. Sms yang sama, pengirim yang sama. Setidaknya dalam sehari aku mendapatkan 10 sms yang sama semenjak kejadian tiga hari yang lalu. Masih mengingatnya? Tentu saja. Siapa yang bisa melupakan kejadian itu begitu saja?

Mendadak aku kembali terbayang saat kedua tangan kekarnya menyentuh pinggangku, menariknya mendekat dan bibirnya yang menyentuh pipi kiriku. Dengan refleks aku menyentuhkan tanganku di pipi kiriku.. Ya, masih terasa bekas bibirnya yang sedikit dingin dipipiku. Lalu seperti terputar begitu saja kalimat yang ia ucapkan . . .

“Nuna… aku menyukaimu…”

Bisikannya pelan, tapi terdengar begitu jelas ditelingaku. Bahkan kata-katanya seperti lagu yang terus berputar di telingaku. Aku masih tenggelam dalam lamunanku saat sebuah tangan mengagetkanku.

“Eonni! Apa yang sedang kau lakukan? Ada yang salah dengan pipimu?” tanya Hyuna sambil menyodorkan sebotol air mineral padaku. Kami sedang berlatih untuk United Cube concert.

“Ah tidak ada apa-apa Hyuna-ya” jawabku sambil tersenyum dan menerima air mineral darinya. “Geotjimal! Eonni! Malhaebwa!” desaknya.

“Apa yang perlu diceritakan? Tidak ada Hyun.”

“Kulihat beberapa hari terakhir ini eonni senang sekali melamun. Bahkan eonni sering memegang pipi kiri eonni. Eonni juga tidak secerewet biasanya. Apa eonni sakit gigi? Atau eonni ada masalah?” aku tertawa kecil mendengar kalimatnya.

“Memangnya aku cerewet? Hyuna yaaa! Kau ini benar-benar”

“Eonni memang cerewet! Tanyakan saja pada Doojoon oppa. Menurut Joon oppa, orang paling cerewet disini ya eonni.”

“Yak!! Kau ini! Aku tidak secerewet itu Hyuna.” Aku meneguk air mineral yang ada di tanganku. Lalu mendadak aku teringat sesuatu.

“Hyun, kau kenal Lee Joon ssi dengan baik?” tanyaku padanya. Agaknya pertanyaanku ini sedkiit membuatnya kaget.

“Mwo? Lee Joon oppa? Aku hanya kenal sebatas tahu saja eonni. Tidak begitu dekat. Waeyo?”

“Aniya, aku pikir kau mengenalnya dengan cukup baik, mengingat kalian berdua sering digosipkan.”

“Tidak, kami hanya sebatas rekan kerja saat pembuatan MV Bubble pop. Itu saja sudah sangat lama eonni.” Jawabnya sambil mengacak tas yang tadi ia bawa dan mengeluarkan sebuah handuk kecil.

“Hyun, bisa kau ceritakan sedikit apa yang kau ketahui tentang kehidupan pribadinya?” Hyuna menatapku curiga.

“Tumben sekali eonni bertanya tentang Joon oppa? Ada apa antara eonni dan dia? Jarang lho eonni bertanya hal seperti ini”

“Tidak ada. Kami hanya sebatas rekan kerja. Tidak lebih. Kemarin beberapa kali aku sempat bertemu dengannya masalah pekerjaan. Hanya ingin tahu saja sedikit tentang dia.”

 “Joon oppa pria yang menyenangkan. Dia tampan, lucu, baik, dan yang terpenting sexy!” jelas Hyuna dengan mata yang melebar.

“Sexy?” tanyaku sambil menautkan kedua alisku. Kulihat Hyuna mengangguk sangat antusias.

“Eonni tahu bagaimana bentuk tubuhnya saat topless?” tanyanya sambil menatapku. Lucu sekali gadis ini, matanya bulat dengan bibir mengerucut. Aku menggelengkan kepalaku. Ya, karena aku memang belum pernah melihat seorang Lee Joon topless.

“Mwo? Belum? Hah.. Benar-benar sempurna! Perfect abs! Selain itu, yang kutahu dia juga cukup dekat dengan beberapa rekan kerjanya. Dulu dia sempat digosipkan dengan beberapa artis terkenal, salah satunya aku tentu saja. Hahahaha.. Tapi sepertinya sampai saat ini pun belum ada seseorang yang benar-benar pergi berkencan dengannya. Bahkan untuk sekedar mengobrol santai.”

“Benarkah?”

“Yak! Eonni kalau tidak percaya, buka saja internet lalu browsing tentang dia apa salahnya? Atau kalau tidak eonni masuk saja ke situs fancafe miliknya.”

“Kau ini, seperti aku tidak punya pekerjaan lain saja.”

“Yak! Eonni, kau saja sempat update tentang Se7en oppa. Kalau kau ada waktu, coba saja buka profil Lee Chang Sun!”

“Yak! Kim Hyuunaaaa!! Se7en oppa berbeda dengan Lee Chang Sun!”

“Eonni! Jangan teriak di telingaku! Suaramu keras sekali!” Hyuna memanyunkan bibirnya sambil mengusap telinganya.

Mendadak ponselku berdering tanda panggilan masuk. Lee Joon.

“Eonni, ada telpon masuk, kenapa tidak diangkat? Dari siapa?”

“Aniya. Bukan siapa-siapa Hyun. Ayo lanjutkan latihan, United Cube concert tahun ini harus lebih baik!” ajakku. Aku menarik Hyuna dan meninggalkan ponselku yang masih terus berdering.

Author POV

“Bagaimana hyung?” Mir meletakkan gelas yang sedang dipegangnya keatas meja. Ia menatap Lee Joon dengan rasa penasaran.

“It doesn’t work” jawab Lee Joon putus asa. “Aku harus bagaimana lagi Mir?” sambungnya.

“Lagipula kau juga sih hyung, main cium seenaknya. Jelas dia marah. Apalagi kalian baru beberapa kali bertemu! Selain itu dia juga bukan gadis belasan tahun yang senang kalau kau perlakukan seperti itu” Lee Joon terdiam mencerna ucapan Mir.

“Aku tahu aku salah. Tapi kalau kau berada di posisiku aku tak yakin kau tidak melakukan hal yang sama. Bayangkan saja, dirimu berada begitu dekatnya dengan wanita yang kau suka, dalam jarak yang kurang dari 20 cm. Yah, kuakui tindakanku memang bodoh. Terlalu ceroboh malah. Aaaarrrgghh!!”

“Sikapmu yang ceroboh memang tidak bisa dilangkan ya hyung? Pertama, kau menubruk Jina nuna sampai terjatuh. Sekarang kau menciumnya. Benar-benar bodoh!” sahut Mir sambil melemparkan serbet kecil yang ada di dekatnya.

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Coba kau bujuk dia agar mau bertemu denganmu. Bukankah waktu itu Cheondoong hyung sudah menawarimu sebuah tempat yang menurutnya bagus? Nanti akan kusampaikan padanya. Besok hari Kamis bukan? Jangan tunggu lebih lama lagi! Segera kirimi dia pesan untuk bertemu.”

“Sekarang?” tanya Lee Joon dengan polosnya.

“Tidak, tunggu sampai dia menikah dengan seorang pria yang lebih pandai darimu.” Jawab Mir kesal.

“Yak! Jangan! Tidak boleh! Jina nuna hanya milikku!”

“Astaga hyung, ternyata kau lebih pabo dari perkiraanku. CEPAT KIRIMI DIA PESAN SEKARANG HYUNG!!!”

Jina POV

Tidak bisa kupercayai, sekarang aku duduk manis didepan laptopku sambil membuka beberapa tab browsing dan salah satunya MBLAQ Lee Joon’s Profile. Ternyata aku memang cukup kepo. Tapi jangan salahkan aku, salahkan Hyuna yang sejak siang tadi cerita begitu banyaknya tentang Lee Joon. Bahkan saat latihan usai pun dia masih saja menceritakan apa yang ia ketahui tentang namja bernama Lee Joon ini.

23

Name : Lee Joon (이준)
Real Name: Lee Changsun
Position : Vocal, Dance
Birth: 07.02.1988, Seoul
Height : 180cm
Weight : 63kg
Education: Kyung Hee Cyber University – Faculty of Information and Communication Technology, Attending
Specialties: Modern dancing, ballet, acting
Interests: Exercising
Career: Ninja Assassin
Advertisement: Nivea, 6to5 S/S Pictorial
Joon acted in the movie Ninja Assassin as the younger version of Rain’s character Raizo.

Lee Joon ideal girl

On the May 1st episode of Star Golden Bell – he is a perma member of Bell line now.. -, when exhibitionist of abs MBLAQ Lee Joon admitted that he is bad at showing his affection for a girl. He said that when he sees girls he likes on the subway or the bus he thinks to himself, “That girl is my girl.” Then he talked about his ideal girl. He said, “I can say everyone but my ideal girl is Kim Yuna.”

Ternyata tipe idealnya Kim Yu Na. Bagus juga seleranya. Hmm.. Dia belajar balet juga? Wah benar-benar… Ternyata cukup banyak juga yeoja yang digosipkan dengannya. Hyosung, Nana, Lizzy dan entah siapa masih banyak lagi. Dan yang membuatku tertawa adalah…. Jung Joori!

url

Aku kembali menscroll kebawah dan menemukan beberapa gambar yang.. yah seperti Hyuna katakan tadi siang. Oh My God!

Joonie (17)

Joonie (189)

Banyak juga yang tidak ku ketahui ya. Tunggu! Kenapa aku mendadak peduli dengannya? Secara refleks aku menyentuh pipi kiriku.

Drrrt.. drrrt.. Ponselku bergetar. Sebuah sms yang sudah bisa kutebak berasal dari siapa.

Lee Joon.

Nuna, aku ingin bertemu denganmu. Besok sore pukul 3. Entah kau datang atau tidak, aku akan tetap menunggu. Aku hanya ingin menjelaskan semuanya. Dan nuna, maaf. Aku benar-benar minta maaf nuna.

Haaah.. Pria ini benar-benar keras kepala. Aku meletakkan kembali ponselku diatas meja. Lee Chang Sun ssi, apa yang telah kau lakukan padaku? Aku menatap layar laptopku yang menampilkan profil pribadi Lee Joon lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kita lihat nanti.

“Kau siap? Sebentar lagi, dalam 5 menit kita akan mengudara, Jina ssi.” Seorang pria berkacamata memberikan kode dan wawancara disebuah stasiun radio pun dimulai. Selama kurang lebih satu setengah jam aku menghabiskan waktuku untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

“Nah Jina ssi, pertanyaan terakhir. Apa kau sudah mempunyai namjachingu? Atau pria yang sedang dekat denganmu akhir-akhir ini?”

“Tidak ada sama sekali. Maksudku belum. Tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya pasti ada seorang pria bukan? Hahaa. Apa kau menangkap maksudku?” jawabku setengah bercanda.

“Ah ya, rupanya kau gugup Jina ssi. Arraseo. Tapi ngomong-ngomong pria seperti apa yang kau inginkan?”

“Mwo? Tipe pria yang bisa membuatku nyaman saat berada didekatnya. Pria yang tdak membuatku cemas saat jauh darinya.”

“Wah, jawaban yang manis sekali Jina ssi.” Wawancara take terakhir masih terus berlanjut hingga sepuluh menit kemudian.

“Terima kasih atas kerja samanya Jina ssi!”

“Sama-sama, aku juga berterima kasih atas bantuannya.” Jawabku seadanya. Ku lirik jam ponselku. Pukul 2. 30? Tiba-tiba ponselku bergetar, sebuah sms masuk.

Lee Joon

Aku tunggu nuna sekarang di cafee yang tidak jauh dari tempatmu sekarang. Datanglah, kumohon.

“Oppa, apa aku ada jadwal sampai sore nanti?” tanyaku pada manajerku yang sedang asik dengan tabnya.

“Tidak ada. Setelah ini kau free, ini jadwal terakhirmu.” Jawabnya tanpa menoleh kearahku.

“Baiklah kalau begitu, aku akan keluar sebentar. Kau pulanglah dulu. Nanti aku menyusul menggunakan taksi.” Aku memakai sweater hijau tebalku dan sebuah syall berwarna senada.

“Kau mau kemana?”

“Aku ada urusan dengan temanku. Nanti aku kabari lagi.”

“Tidak perlu kuantar?”

“Tidak usah, kau pulanglah.”

“Baiklah kalau begitu, kau jaga diri, ne? Kalau butuh apa-apa telpon saja aku.” Pesannya.

“Tenang saja, aku bukan anak TK yang akan tersesat mencari rumahnya.” Candaku.

“Annyeong oppa!”

Aku berjalan cepat keluar dari studio. Heem.. Sepertinya sore ini cukup sayang kalau dilewatkan? Sore yang cukup cerah, mungkin berjalan kaki akan lebih menyenangkan bukan? Yah, sekali-sekali. Apalagi tempat yang akan kutuju tidak begitu jauh.

GNa (26)

Author POV

Sementara itu Lee Joon sudah dengan cemasnya menanti kehadiran Jina sore itu. Dia khawatir kalau nuna yang ia tunggu tidak datang, karena Jina sama sekali tidak membalas pesannya. Ia mondar mandir didalam ruangan yang sudah ia pesan sebelumnya. Benar kata Thunder, kafe ini tidak begitu mengumbar privasi orang, tapi cukup nyaman untuk digunakan. Tidak terlalu tertutup namun sangat aman, sepertinya.

Ia melirik jam yang ada dipergelangan tangannya. 03.10 belum ada tanda-tanda kedatangan Jina. Ia semakin gelisah dan mengacak rambutnya sendiri namun tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan seorang pelayan masuk.

“Tamu Anda sudah datang Tuan.” Ucapnya sambil mempersilahkan seorang wanita memakai sweater hijau memasuki ruangan.

Joon memperhatikan dengan seksama wanita yang berdiri dibelakang si pelayan, lalu tersenyum.

“Terima kasih, kau boleh pergi.” Setelah pelayan itu menutup pintu, Joon mempersilahkan wanita yang ada dihadapannya untuk duduk.

“Duduklah nuna” ucapnya sambil menatap Jina. “Bagaimana kabarmu, Jina nuna?”

“Speerti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Kau sendiri?”

“Tidak cukup baik nuna.” Jawabnya sambil berusaha tersenyum.

“Apa kau sedang tidak enak badan?”

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?”

“Hem.. Nuna, masalah kejadan empat hari yang lalu, aku sungguh minta maaf padamu. Aku benar-benar tidak sengaja nuna, refleks lebih tepatnya. Aku tidak bisa mengontrol pikiranku saat itu.”

Jina POV

“Duduklah nuna” ucapnya sambil menatapku. “Bagaimana kabarmu, Jina nuna?” tanyanya setelah kami duduk berhadapan.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Kau sendiri?”

“Tidak cukup baik nuna.” Jawabnya sambil berusaha tersenyum.

“Apa kau sedang tidak enak badan?”

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?” Dia terdiam sejenak sambil mengetukkan jarinya kemeja.

“Hem.. Nuna, masalah kejadan empat hari yang lalu, aku sungguh minta maaf padamu. Aku benar-benar tidak sengaja nuna, refleks lebih tepatnya. Aku tidak bisa mengontrol pikiranku saat itu.” Mendadak saja jantungku berdetak semakin kenceng saat ia mengungkit kejadian empat hari yang lalu. Aku berusaha tenang, aku menelan ludahku sendiri dan meremas ujung sweaterku agar tidak terlihat gugup.

“Sudahlah Joon, jangan terlalu dipikirkan. Lupakan saja.” Jawabku ringan. Ringan? Astaga, sungguh hebat kalau jawabanku barusan terdengar biasa saja. Butuh tenaga ekstra untuk mengeluarkan kata-kata tadi. Dia mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Aku tahu kau refleks karena berada sedekat itu dengan wanita. Aku juga salah Joon. Tapi perlu kau tahu, aku kecewa padamu karena melakukan hal seperti itu.”

“Nuna-ya, aku sungguh minta maaf padamu. Dan perlu nuna tahu, kata-kata yang sempat aku ucapkan padamu saat itu benar adanya. Jina nuna, aku menyukaimu.” Jawabnya mantap tanpa mengalihkan pandangannya dariku.

“Mwo?” Aku balas menatapnya, berusaha mencari jawaban lewat pandangan matanya.

“Aku menyukaimu nuna, bukan sebagai rekan kerja atau dongsaeng pada nunanya. Tapi sebagai seorang pria kepada seorang wanita. Aku tahu, hal ini pasti membuatmu merasa tidak nyaman. Tapi aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi nuna. Setiap ada di dekatmu, aku merasakan hal yang berbeda. Perasaanku tidak menentu nuna, jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya, rasa nyaman yang kudapatkan saat kita berbincang, tatapan hangat darimu yang mampu membuatku teduh. Aku mulai nyaman bicara denganmu, semenjak pertemuan terakhir kita setelah acara musik special dengan Maroon 5 lalu dari sanalah aku menyadari bahwa kau adalah gadis yang menyenangkan.” Ia mengambil jeda dalam pembicaraannya.

“Kau tidak pernah kehilangan topik pembicaraan bahkan cenderung cerewet, kau tidak henti-hentinya menceritakan ini itu. Aku tidak merasa canggung bicara denganmu. Aku benar-benar nyaman berada didekatmu. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya nuna. Dihadapanmu, aku merasa aku tidak perlu menjadi orang lain dan benar-benar menjadi siapa aku yang sebenarnya. Perbincangan kita beberapa waktu lalu itu juga membuatku nyaman.”

“Lee Joon-ah..” aku berusaha menyela ucapannya, namun ia masih saja melanjutkan kalimatnya.

“Tidak tahukah kau setelah kejadian itu aku merasa sangat bersalah kepadamu. Terlebih saat kau mulai menjauhiku, dan menjaga jarak denganku. Saat kau tidak membalas pesanku atau mengangkat telpon dariku. Kau benar-benar membuatku gila nuna. Aku merasa menjadi orang paling bodoh.” Aku hanya terdiam menatap Joon yang terdiam. Berusaha mencari kebenaran dalam matanya. Aku berusaha mencar pembenaran lewat matanya yang kini menatapku.

“Nuna, aku tahu ini terlalu cepat. Namun aku yakin dengan perasaanku. Maukah kau mengijinkanku untuk menjadi seorang pria yang bisa membuatmu nyaman saat berada didekatmu dan tidak akan membuatmu cemas saat aku jauh darimu?” tanyanya padaku.

Kurasakan udara disekitarku mulai berubah menjadi sedikit panas? Darahku mengalir begtu cepatnya sehingga membuat kerja jantungku berlipat ganda. Apakah pertanyaannya barusan, merupakan sebuah permintaan?

“Apa… maksud perkataanmu?” Dia meletakkan telapak tangannya diatas kedua tanganku yang berada diatas meja. Menggenggamnya erat dan meremasnya perlahan. Astaga! Kini jantungku berdetak semakin cepat. Lee Changsun!

“Aku menyukaimu nuna. Maukah kau, Choi Jina menjadi kekasihku? ”

-continue-

Heung.. Part yang ini gimana coba? Rada aneh ga sih? ‘-‘)v mian yah kalo part yang ini rada gaje gini. Buat part selanjutnya bakal aku perbaikin 🙂

Buat author aslinya maaf ya kalo ffnya jadi ancur karena ulahku wkwk..

Iklan

6 thoughts on “The Day I Fall in Love (3)

  1. Wah, Milla akhirnya publish juga setelah berhari-hari penantian panjang dan Milla ditagih-tagih terus ama debt collector ff whahahahhh…

    Ini kereeeeeeeennn bgt Milla, pov-nya jina bagus, ga nyangka ternyata jina cm sebatas nganggep joon sbg temen kerja doang, joonnya kegeeran masaa..
    Tapi mestinya emg gitu, jina jg baru tau ijun kan..
    Itu convey jina ama hyuna kocak… Hahahahhh…

    Gara2 hyuna, jinanya jd rela2 browsing ama ada foto2nya juga… Bagus bgt.. Ah, ga tau mesti ngomong apa.. Penasaran ama lanjutannya Milla…

    Kayanya author asli bakal puas ama yang ini, kerasa bgt feelnya jina, duh mudah2an jina juga suka ama ijun yaa.. Kasian ijunnya kalo ngga… Bakal galo berhari2 tuh

    Ijun emg pabo yaahh main cipok sembarangan tp knp juga coba itu chu dikit malah jadi berkesan buat jina, apalagi kalo kiss banyaakk ahahahahhhh

    Makasih ya Milla, keep going on.. I like the whole story ‘-‘b

    • *tepuk tangan* wah wah Revan selamat ya.. Ini komen terpanjang buat FF yang ada disini masa wkwk xDD

      Iya, abis ada debt collector ff yang nagihin mulu sih tiap hari. Ini aja ngelanjutinnya sempet macet masa ahaha..
      Kereeeen? Begitukah? Makasih yaaa ^^ ga nyangka loh bakalan jadi kaya gini. Awal ngelanjutin ini ff aja cm jadi 4 baris ‘-‘v
      Salahin ijun dong, salah siapa kegeeran..

      Itu yang convoy sama hyuna kocak ya? xD yang bkin kocak apanya coba? ‘-‘?
      Kk~ tunggu aja yah kelanjutannya.. Tp gatau kapan :p

      Semga aja author aslinya suka+puas ya sama ffnya 🙂
      Heung.. kalo masalah jina suka sama ijun….. tu belum pasti yah ‘-‘v liat aja ntarnya
      Namanya juga cium mendadak.. Si Ijun kaget si jina lebh shock.. wkwk..

      sip. sama2 Revan 🙂 Makasih juga yaaa udh mau baca ^^

      • Masa terpanjang? Tambahin panjang lg kalo gitu.. Biar Millanya kesel XDD

        Yg kocak itu pas hyuna bilang ttg lee joon, trus bilang jina cerewet..

        Yaahhh jangan macet2 dong Milla kan kasian ini pembaca yang udh setia nunggu dr kemaren2, pokoknya ga sabar nunggu lanjutannya XDD

      • Nakal masaaaa.. Wkwk..
        Bagian itu ya? Wkwk.. Tapi emang sumpah aslinya Jina cerewet pake banget loh wkwk..

        Ya abis kan kalo bkin kadang perlu inspirasi, kaya tadi malem aja dpt insprasi, jadinya lancaaaar XDD ahahah..

        Iya iyaaa.. Diusahain secepatnya ^^ makash yaaaa 😀

  2. Ga boleh ya panjang2 jd komennya kaya gini aja..

    “Heemm” “iya..” “Bagus”

    Udah.. 😀 😀 ahahahhhh.. Jd ngerusuh disini… Udh ah mari kembali ke habitatnya masing2 (?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s